Selasa, 22 Desember 2009

HIJRAH WAKTU


(Oleh : Herman Oesman)

"Tanpa kita menerima fakta bahwa semuanya akan berubah,
kita tidak akan mampu menemukan ketenangan."
(Shunryu Suzuki – Master Zen)

MENJALANI tahun 1431 Hijriyah dalam waktu dekat, tak berbeda dengan hari-hari biasa. Kita jalani apa adanya. Nuansa pergantian tahun (Hijriyah) dalam kalender Islam ini tidaklah sama dengan nuansa pergantian tahun Miladiyah (penanggalan Masehi) yang rutin kita lalui.

Pada setiap pergantian tahun Masehi (miladiyah), kita justru menanti detak jam pukul 12 malam dengan pesta dan hiruk-pikuk tak bermakna. Memukul tiang listrik, meniup terompet, mabuk dan sebagainya. Kita nikmati dan larut. Kita pun menjadi bagian dari pusaran waktu. Lalu setelah itu? Kita seolah menjalani hidup yang muspra.

Waktu Mekanis

Pergantian tahun dalam bentuk apapun, adalah waktu yang tidak konstan. Di sana ada ”perubahan”. Pendulum, jarum jam dan angka-angka yang secara mekanis mengalami pergerakan. Mulai dari angka satu sampai angka 12 yang terbagi menjadi 24 jam. Alan Lightman, seorang fisikawan kelahiran Memphis, Tennessee, Amerika Serikat tahun 1948, dalam bukunya Einstein’s Dreams (1999) melukisnya sebagai waktu-mekanis.Waktu mekanis ---menurut pandangan Lightman—yang terurai apik dalam catatan 24 April 1905 pada salah satu bagian dari buku itu menyebutkan, ”...kaku, laksana pendulum besi raksasa yang terayun-ayun maju-mundur, tak dapat ditolak. Sudah ditetapkan sebelumnya.” Waktu tetap bergerak, menggilas apa saja. Waktu tak dapat ditahan. Al-Qur’an pun memberi ’peringatan’ keras tentang berharganya waktu. Sehingga itulah, Tuhan pun bersumpah dengan waktu. (QS. Al-’Ashr).

Memang, mengarifi, memaknai dan menyikapi waktu tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Setiap putaran waktu, selalu kita genggam erat harapan-harapan. Kita ingin tetap sukses dan beruntung. Padahal, Lightman mengingatkan, mereka yang hanya ingin tetap sukses, beruntung, penuh sukacita dan takut musibah atau kesedihan, adalah orang yang tak siap menghadapi kenyataan atas berjalannya waktu.

Mengawali tahun (Miladiyah) dipenghujung 2009 ini, kita masih disentak rentetan musibah yang tidak ada habis-habisnya. Mulai insiden moda transportasi, longsor dan banjir yang menimpa saudara-saudara kita. Semua ini menumpahkan emosi dan meletakkan kesadaran kita pada titik nadir dan seolah ”menggugat” takdir. Pada konteks ini yang dapat mengisi ruang-ruang batin dan pikiran kita hanyalah Sang Pencipta. Dan karena itu, alangkah bijak dan paling pantas bila semua musibah itu kita kembalikan kepada Sang Pemilik Waktu.

Pada butiran waktu yang terangkai dan melintasi kehidupan, sudah tersedia ruang untuk di-taffakuri, direnungkan. Waktu memiliki dimensi banyak yang secara serentak seperti ruang. Merenungi perjalanan waktu, setidaknya memberikan kesadaran, bahwa di sana tak hanya hidup satu ruang, tapi begitu banyak ruang. Bahkan terlihat paradoksal. Saling berbenturan dengan akal sehat kita. Demikian halnya, suatu waktu, kita berada pada kepatuhan dan khusyu dalam menjalani pusaran arus ritus keagamaan. Namun, di lain waktu, kita menyaksikan, (bahkan) juga ikut melakoni dan terjebak pada penipuan, korupsi, perampokan, tindak kekerasan, dan sebagainya. Dalam waktu itulah, kita mencari identitas, kesejatian, dan bertanya tentang diri ini. Hanya pada waktu, kita mengelola diri, menjadi subyektif dan obyektif sekaligus.

Waktu Kesadaran

Pergantian tahun dan bergeraknya waktu setidaknya menyiratkan sebuah tekad, bahwa yang perlu ditaati adalah waktu kesadaran, bukan waktu mekanis. Karena dengan waktu kesadaran, kita tetap berada dalam keterjagaan. Tidak secara mekanis, menghitung detak jam dan berlalunya hari-hari tanpa sedikitpun memberikan perubahan pada watak dan perilaku kita. Apa jadinya, bila pada waktu kemarin, watak dan perilaku kita ternyata tetap sama, dan di waktu mendatang bahkan semakin menjadi-jadi. Semakin liar, serakah dan rakus. Mungkin inilah yang diingatkan Tuhan, dalam bahasa al-Qur’an, asfala saafiliin.

Waktu mendorong akal dan hati nurani kita untuk ikut bergerak, karena hanya akal dan hati nurani-lah merupakan nilai penentu bagi seorang manusia untuk melakukan sesuatu. Bukan status, harta dan kekuasaan. Titik.

Penanggalan tahun Hijriyah melalui bulan Muharram mengandung hikmah, bahwa pergantian waktu setidaknya merubah seluruh sikap dan watak kita menjadi lebih arif-bijaksana. Inilah saat hijrah akal dan hati nurani. Hijrah, boleh jadi memindahkan perilaku yang demikian keliru dan kasar menjadi lebih halus dan selalu sadar akan kekeliruannya. Hijrah adalah sedikit ruang untuk kita bertafakkur, merenung tentang waktu yang telah kita jalani.

Hijrah adalah pergerakan waktu kesadaran yang memang tidak butuh gegap-gempita dan seremoni. Tapi lebih pada semaraknya naluri dan nurani untuk tetap kokoh bertahan dalam gempuran perubahan waktu. Dengan hijrah, ada nilai-nilai kebajikan yang dapat diraih, sambil tetap berharap semoga nilai dan mental machiavelis (menghalalkan segala cara) tidak terulang, apalagi ditumbuh-suburkan.

Pada hijrah, kita berharap ada penghayatan waktu untuk menggumuli hidup lebih bermakna. Memperkaya jiwa dengan menumbuhkan kesadaran, karena itu waktu tidak harus disia-siakan, waktu harus dimaknai. Sehingga setiap musibah harus pula diselami dalam deterministik kesadaran. Hijrah adalah gerakan revolusi mental dan nurani melalui waktu kesadaran untuk memperbaiki tatanan-tatanan amburadul, mengatur sistem agar lebih sehat. Memperbaiki mental kita untuk lebih siap atas segala yang bakal kita hadapi. Hanya dengan itulah, hijrah lebih memberi manfaat.

Di tahun baru 1431 Hijriyah, mungkin dapat menjadi cermin besar untuk kita kembali berkaca, tentang apa yang sudah kita lakukan pada waktu-waktu kemarin. Sudah saatnya bangsa ini melakukan hijrah waktu, dari waktu mekanis menuju waktu kesadaran, untuk menyadari segala kekeliruan dan kesalahan yang selalu saja diperbuat. Tanpa itu, mungkin kita perlu menyelami hati sambil bertanya : ”manusiakah kita”? []

Rabu, 07 Oktober 2009

Membaca Nasib Orang Usia Lanjut Indonesia


Cerita pendek ”Rumah Amangboru” karya Hasan Al Banna (Kompas, Minggu 5 April 2009) sesungguhnya merupakan kisah yang biasa terjadi dalam kehidupan pada masa usia lanjut banyak orang. Dalam cerpen itu, dituturkan tentang Haji Sudung yang dirundung kesendirian setelah empat tahun sebelumnya istrinya meninggal dunia. Ketiga anaknya (Lisna, Suti, dan Marsan) sebagai anak tentu saja merasa berkewajiban memberi perhatian kepadanya. Tetapi, karena mereka telah menetap di Jakarta, satu-satunya saran yang diajukan adalah mengajaknya untuk hidup di kota besar itu.

Desakan anak-anak dan menantu perempuannya (Risda, istri Marsan), bagi duda berusia 78 tahun yang sudah empat kali naik haji itu, tak dapat ditolak lagi. Namun, kehidupan kota tidaklah cocok baginya. ”Menjalani hari-hari pertama tinggal di kompleks saja, Haji Sudung sudah linglung.” Risda, yang semula menunjukkan minat lebih besar untuk merawatnya dibandingkan kedua anak perempuannya sendiri, lama-kelamaan merasa kewalahan. ”Tambah pikun ia...” sehingga mengambil keputusan menitipkannya ke panti jompo.

Nasib tragis biasanya dialami oleh para orangtua di kampung-kampung, yang pada hari tuanya hidup sendirian karena anak-anaknya merantau, ”menjadi orang kota”, dan tidak kembali ke kampung halaman. Jika masih hidup berpasangan (masih suami-istri), mungkin tidak ada masalah besar, tetapi kalau pasangan sudah meninggal dunia, semisal yang dialami Haji Sudung dalam cerpen tersebut, maka masalah demi masalah akan muncul. Kita dapat membayangkan sendiri, masalah-masalah yang muncul ketika seseorang hidup sendirian dan sudah lanjut usia. Mulanya tentu masalah kesepian atau kesendirian itu sendiri, lalu masalah praktis hidup keseharian yang pasti kurang terjaga lagi, seperti tidak ada orang yang akan mengurus atau mengingatkan soal makan dan perlunya istirahat. Termasuk pula masalah kesehatan, yang sering muncul karena daya tahan dan kekebalan tubuh mulai menurun seiring bertambahnya usia.

Harta kekayaan sebenarnya sangat menolong dalam hal mengatasi persoalan yang dihadapi para lanjut usia itu. Paling tidak, dengan hartanya, mereka dapat membayar pelayanan yang diinginkan. Sayangnya, kehidupan di kampung atau pedesaan belumlah seperti kehidupan kota-kota besar. Belum ada perawat yang khusus menyediakan jasanya untuk melayani orang-orang usia lanjut atau orang jompo. Pada umumnya orang-orang usia lanjut (termasuk yang jompo) di kalangan masyarakat yang masih ”tradisional”, baik di desa maupun di kota, tetap diurus anggota keluarganya atau anggota keluarga besarnya (keluarga batih).

Kepribadian

Salah satu ciri kepribadian masyarakat Indonesia adalah kurang teguhnya sikap untuk independen atau mandiri. Belum saatnya menyerah pada keadaan sudah menyerah. Seharusnya masih bisa mengurus diri sendiri, memilih segala sesuatunya diuruskan oleh orang lain. Keinginan untuk mampu mengerjakan sendiri tidak kuat. Sehingga, akhirnya memilih memercayakan kehidupan yang dijalani kepada orang lain.

Karena itu, para orangtua sering kali harus menyerah terhadap desakan yang didasarkan pada niat baik, terutama niat baik dari orang-orang terdekat, seperti anak dan menantu. Seperti penuturan penulis dalam cerpen itu mengenai Risda, yang ”tak bosan-bosan melunakkan hati Amangboru—sang mertua—untuk tinggal bersamanya”. Ucapan Risda memang begitu manis di telinga, ”Untuk apalah Amangboru menikah lagi. Kalau soal merawat, aku pun bisa. Lagi pula, apa Amangboru yakin akan dirawat setelah nikah? Bukan aku menjelek-jelekkan, cuma khawatir saja, bukannya mengurus Amangboru, eh malah menguras kekayaan.”

Masalahnya, apakah orang lain (termasuk orang-orang terdekat) yang dipercaya itu benar-benar bisa dipercaya? Ternyata tidak selalu bisa dipercaya.

Melalui cerpen ”Rumah Amangboru”, Hasan Al Banna memotret kehidupan Haji Sudung. Potret yang suram. Ketakberdayaan seorang laki-laki tua yang telah kehilangan kemandirian. Cerpen itu juga menunjukkan betapa ”durhaka”-nya si menantu, yang semula berniat baik, tetapi ternyata kemudian berubah pikiran. Dia begitu tega mengirimkan mertuanya ke panti jompo. Tidak ada upaya perlawanan sedikit pun dari Haji Sudung terhadap ”kekuasaan” menantunya, yang akhirnya menguasai pula uang hasil penjualan harta buminya. Celakanya, tidak ada pula pembelaan dari anak-anaknya sendiri, Marsan, dan kedua kakaknya, Lisna dan Suti. Pertanyaannya kemudian, apakah memang harus demikian nasib orangtua pada masa usia lanjut?

Sudah tentu nasib orangtua pada masa usia lanjut tidak harus berakhir tragis: harta habis, lalu dititipkan ke panti jompo. Para orangtua mestinya juga tidak harus mengikuti apa kata pengarang cerpen ini, ”Begitulah, dulu anak-anaknya tunduk pada aturan-aturan yang ia maklumatkan. Tetapi, kini ia harus paham bahwa tiba juga giliran untuk menurutkan kemauan anak.” Sebab, segala sesuatu harus dipikirkan masak-masak. Apakah kemauan anak itu baik untuk kedua pihak, dirinya maupun untuk anaknya, atau hanya untuk salah satu? Jikalau hanya baik untuk salah satu pihak, lebih baik tidak dituruti. Dan di sinilah kemandirian dalam memutuskan sesuatu diperlukan.

Selama masih bisa mandiri, setiap orang usia lanjut seharusnya berusaha mandiri sampai benar-benar tidak mampu mandiri. Hidup menumpang di rumah anak, artinya akan menjadi beban tambahan bagi si anak, pasti tidak enak. Apalagi, si anak jelas-jelas sudah punya beban dan tanggung jawab sendiri, yaitu anak-anak mereka alias cucu. Haji Sudung sendiri sebenarnya masih bisa mandiri sebab dengan harta buminya dia dapat menopang kehidupannya. Dia hanya memerlukan orang yang pantas dan bisa dipercaya. Jadi, kewajiban anak-anaknya sesungguhnya adalah mencarikan orang yang pantas dan bisa dipercaya itu untuk mengurus atau merawat Haji Sudung, bukan memboyongnya ke Jakarta dan menjual seluruh harta buminya!

Tetapi, apa boleh buat, Haji Sudung sudah dibuat menyerah oleh pengarangnya, seperti mengikuti prototipe orang usia lanjut Indonesia pada umumnya. Risda juga diplot sebagai ”biang” kesengsaraan hidup mertuanya dengan sikap yang merasa tak cukup mendapatkan uang hasil penjualan kekayaan mertuanya (yang telah dia gunakan untuk membuka salon). Dia merasa direpotkan dan tidak mau lagi mengurus mertuanya yang kian pikun. Dan akhirnya, Haji Sudung akan diantar ke panti jompo. Risda bahkan berbohong ketika memberi perintah kepada dua anaknya, ”Andika, Veri, suruh Opung berkemas-kemas. Bilang besok kita jalan-jalan ke kampung.”

Meski kurang tegas, Hasan Al Banna memberi amanat agar pembaca (orang usia lanjut) jangan mudah percaya kepada siapa pun, termasuk anak dan menantu sendiri, sehingga mau menyerahkan diri, semua harta dan seluruh kehidupannya begitu saja.

-----
Sumber: Kompas, Minggu, 10 Mei 2009
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03061113/membaca.nasib.orang.usia.lanjut.indonesia

Rabu, 16 September 2009

Bila Hati Bercahaya



Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.

Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.

Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.

Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.

Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.

Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."

Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)

Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.

Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.

Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.

Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.

Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.

Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.

Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.

"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu," tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."

Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An Nuur [24] : 35).

sumber : MQ File

Diam Itu Emas


Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada http://www.blogger.com/img/blank.gifmemaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa dengan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.
 

2. Keutamaan Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:
1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin.

sumber : MQ File