Merakit serpihan2 ilmunya, mengasah rasa kepekaan cinta terdalam diri lalu berbagi dari apa yg kita punyai. Bismillah...

Kamis, 07 Juli 2011

Memimpikan The Winning Generation


Konflik yang sering muncul dalam berbagai arena, menjadikan maluku utara buah bibir di negeri ini, terlepas dari hal baik yang juga banyak dilakukan. masih segar dalam ingatan kita pilkada 2007 mengantarkan maluku utara pada rekor pertama dunia pilkada terlama bahkan, yang lebih membuat hati ini terasa sesak adalah terjadi Gejala somatic politik dikalangan masyarakat. Masyarakat pendukung dilibatkan bahkan tanpa sadar melibatkan diri dalam konflik psikologis yang berlebihan akhirnya, kontak fisik tak terelakan lagi.

Begitulah setiap negeri, konflik adalah takdir semua bangsa-bangsa tidak perlu disesali. Kita hanya perlu meyakini kaidah sderhana bahwa masalah kita bukan saja pada ”buruknya” kepemimpinan elit politik dan struktur yang melingkupinya akan tetapi, masalah terbesar kita adalah terjadi KRISIS GENERASI disaat masalah-masalah itu terjadi.

Sejarah kejayaan peradaban islam adalah produk The winning generation. Produk gnerasi-generasi pemenang. Mereka tidak menginginkan kekuasaan karena itu berbeda dengan produktifitas, mereka hanya akan merebutnya jika akan membawa kebaikan bersama. Mereka tidak mengejar popularitas, yang mereka inginkan hanyalah posisi terhormat disisi Allah, jabatan bahkan membuat hina jika tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Kita senantiasa berkata jujur pada nurani tatkala, melewati persimpangan sejarah yang curam. betapa terasa rindu hadirnya the winning gneration itu di Maluku utara tercinta. Pengalaman pilkada di berbagai daerah termasuk maluku utara sendiri harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk lebih selektif memilih pemimpin. Dan yakinlah bahwa, dalam skala peradaban apapun the wiining generation itu akan muncul. Anis matta;”mereka selalu muncul disaat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) ditengah situasi yang sulit”.

The wiining generation maluku utara adalah pemberani sejati, fitrah keberanian tertancap jauh kedalam hatinya. Ia, tidak silau dengan tawaran apapun, tidak ada kamus atau kosakata Gadai-menggadai negeri hanya untuk kepentingan diri dan kelompok. Ia berpijak pada keyakinan terdalam akan cinta dan ketulusan hati dalam berkonstribusi terhadap Maluku utara tercinta. Walaupun ia berada dalam skala terendah dalam masyarakat dan pemerintahan sekalipun. ia tetap, open mind dan fisfhul thingking dalam memandang masa depan daerahnya lalu berupaya berbagi dari setiap yang didapat tuk negerinya.

Oleh : Rahmat Abd Fatah
Teruskan baca - Memimpikan The Winning Generation

PARA PEMIMPIN MUDA ITU...


Pemuda adalah tahapan kuat diantara dua tahapan lemah, lemah karena masih anak-anak, dan lemah karena tua renta.
(QS Ar-Rum: 54)

Sesungguhnya Pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.
(QS. 5:55-56)

“ Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang
pemuda merupakan Pilar kebangkitan.
Dalam setiap kebangkitan,
pemuda adalah rahasia kekuatannya.
Dalam setiap fikroh,
pemuda adalah pengibar panji-panjinya
(Imam Syahid Hasan al-Banna)

Asy-Syabab fil Islam :

1.Ibrahim a.s. Adalah sosok cerdas & kritis terhadap kemapanan ideologi yg menyesatkan kaumnya. Berhadapan dengan Aazar (ayahnya) dan Namrud.
2.Daud a.s. Kemuakannya terhadap rezim Jalut yg akhirnya dibunuhnya dengan ketapel. Dan akhirnya Daud diberi Allah kepemimpinan dan hikmah.
3.Ashabul Ukhdud. Sekelompok pemuda beriman, dibakar diparit bukan akhir perjuangan tapi puncak perlawanan. Rakyat turut masuk ke api dan sang rajapun tidak berarti kekuasaannya (Najran di Yaman)
4.Yusuf a.s. Modal kecerdasan dan keteguhan pribadi menjadikan beliau bendahara negara Mesir sekaligus mampu menyelamatkan krisis.
Mujahidun linnafsihi, sebagai benteng menolak ajakan Zulaikha.

Al-Qur’an memaparkan sosok terbaik ia adalah Muhammad SAW. Bersama pamannya, berkeliling jazirah. Diusia 17 tahun sudah menjadi pahlawan Fujjar. Tampil sebagai problem solver perkara hajar aswad dan diusia 40 thn, khatimul anbiya wa rahmatan lil-”alamin.

Generasi muda didikan Rasulullah SAW.

Ali bin Abi Thalib, 10 tahun masuk Islam; gerbangnya ilmu (hukum); rela berkorban demi nabi
Mush’ab bin Umair, usia 20 th mengemban misi duta Islam pertama di Madinah
Usamah bin Zaid, usia 17 th sebagai panglima termuda
Muhammad Al-Fatih Murad, 21 th pembebas konstaninopel

“…Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri (di hadapan penguasa)..” (QS Al Kahfi:13-14)


MEREKA....PEMUDA VISIONER ITU...Memiliki:

Pertama, Orientasi yang benar (Shihhatul ittijah) sebagai Visi. ia adalah kunci sukses kepemimpinan dan kepemimpinan adalah kunci sukses organisasi. ia adalah dasar Paradigma yang yang mengarahkan berbagai tujuan seseorang. “ Barang siapa berkeinginan kuat berjumpa dengan Allah, maka hendaklah dia memproduksi amal sholeh dan tidak memberikan tandingan apapun untuk Allah tatkala dia beribadah kepada – Nya”. (Qs. Al Kahfi : 110)

Kedua, memiliki tugas yang benar (Shihhatur risalah) yaitu sebagai Misi
Adalah upaya untuk Menjadi Ahli Ibadah dan Ahli Dakwah (Kholifah) dan tentunya Menegakkan nilai – nilai Islam. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada – Ku ”. (Qs. Adz Dzariyat : 56) dan “….sesungguhnya Aku akan jadikan (manusia) sebagai kholifah…” (Qs. Al Baqoroh : 30)

Ketiga, memilki strategi yang jitu (Shihhatut takhtith ) yakni, seberapa besar ia mengenal diri dan lingannya. bahwa “Setiap amal mempunyai masa semangat, dan setiap masa semangat terdapat pula masa turun semangat. Maka barangsiapa yang masa lemah semangatnya masih berada dalam sunnahku maka ia telah mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang pada masa lemah semangatnya jauh dari sunnahku, maka sungguh ia berada dalam kesesatan.” (HR. Tirmidzi)… Dan Penguasaan Lapangan;
Kematangan dan keberhasilan seorang aktivis akan sangat dipengaruhi oleh seberapa lama interaksinya dengan medan (lapangan) da’wah dan seberapa besar ia mampu memahami masyarakatnya.

Dan kelima, ia memiliki (Shihhatul baromij) yakni Disain amal yang terarah. Sholat di masjid, Puasa Ramadlan / Senin – Kamis, Zakat dan Infaq, Baca Alqur’an, Kajian Islam dan berbagai aspeknya (Sosial,budaya,technologi maupun politik) dan tentunya Bekerja Profesional mencari Nafkah.

Ya Allah Berikan aku hidayah untuk dapat melaksanakan semuanya dengan baik…dengan penuh istiqamah kepadamu ya Allah…saudara-saudaraku mari kita saling mendoakan untuk dapat melaksanakan disain amal ini…subhanallah…bersykurlah pada mereka yang telah istiqamah menjalankannya…“…Di dalamnya (masjid) ada orang-orang yang gemar membersihkan dirinya (dari dosa). Dan Allah mencintai orang – orang yang gemar membersihkan dirinya.” (Qs. At Taubah : 108)

Dan akhirnya Shihhatul baromij, berpotensi memproduk pemimpin yang memilki pertama, INTEGRITAS yang baik. Yakni; terjadi Kesesuaian antara lisan, hati dan tindakan, Keteladanan, Moralitas, Kepercayaan dan Karakter yang khas. Kedua, memiliki Naluri. KEMAUAN KUAT yakni, Dorongan Hati, Gelora Semangat Yang Tak Pernah Padam, “Jika ada 100 orang pejuang maka saya ada didalamnya, jika tinggal 10 orang maka sayapun ada didalamnya, dan jika tinggal 1 orang maka sayalah orangnya.” dan yang ketiga, ia memiliki jiwa COMPETITIVE YAKNI, Daya Saing yang tinggi, Karakter Kuat, Mental Tangguh dan Percaya Diri, Inovatif dan Kreatif, Cerdas dan Berwawasan Luas, Tanggung Jawab dan memiliki Mobilitas yang tinggi.

Oleh : Rahmat Abd Fatah
Teruskan baca - PARA PEMIMPIN MUDA ITU...

AVATAR THE LAST AIR BINDER


Seringnya episode di ulang-ulang sangat membosankan. namun sampai juga di episode dramatis dan sarat konflik, transformasi spiritual serta pendewasaan karakter The King Earth dan The Guru.

Yang paling kusuka adalah percakapan antara Aang dengan Guru, seorang penasehat spiritual dari kuil pengembara udara.bahwa untuk mencapai dunia Avatar Aang Harus mampu membuka cakra dirinya.

Membuka 7 cakra adalah mengalir lepas menerima keadaan dengan jiwa besar untuk membuka energy dan bersatu dengan kosmik semesta. Guru mengatakan kosongkan dirimu dari apa yang membuatmu sedih, apa yang mengesalkan, apa yang membuatmu benci, apa yang kau takuti, dan apa yang kau cintai dilarung lepas seperti air yang mengalir. Sungguh Indah sekali…namun sayang Aang gagal pada cakra Ke 7. akibat larut dalam perasaan cintanya...
Teruskan baca - AVATAR THE LAST AIR BINDER

Apa Kabar Renaissance, Gimana Keadaanmu sekarang ???


[Tulisan ini adalah catatan kecilku untuk IMM Komisariat Renaissance FISIP UMM, di akun facebook IMM Renaissance]

Sekembali ke Malang[13/06/11], Ibnun_Cs...ngajak aku ngopi di depan Suzuki Tlogomas, mereka memulai dengan menyerang telingaku dengan berbagai informasi tentang komisariat periode terbaru. Maaf aku menyebutnya “periode terbaru”. Karena ada yang berbeda. Kalian pasti merasakannya ”. Ya..harus buweeda dong...! he”. Aku lalu mulai teringat kembali saat-saat di komisariat dulu sesaat setelah Ibunun kembali menyentil bahasanya Mas ilham; “Mencintai tidak selamanya memuji, mengkritik adalah bagian dari mencintai”.

Sekelumit bahasa ini tidak lagi asing di kalangan kader Renaissance. Ia senantiasa mewarnai bahkan menjadi ciri betapa kader renaissance disiapkan sebagai generasi pemenang (the winning generation) yang siap berada dalam hentakan badai sebesar apapun, dalam keadaan bersama ia mampu mewarnai yang lain dan disaat sendiri mampu menguatkan diri sendiri. Ia tidak galau apalagi lari dari hujanan kritik yang menderanya, ia hanya meyakini satu kaidah sederhana bahwa setiap hujanan kritik padanya adalah ekspresi cinta yang sedang dialamatkan pada dirinya.

Ada cinta yang bisa membunuh, kata pepatah arab. Tapi di renaissance ada cinta yang bikin kita jadi Asyik. Ini tidak selalu karena kita kehilangan kendali akal sehat. Tapi terutama karena kita sedang mengkader dengan pola yang berbeda; kritik, konflik dan cinta, itulah yang saya bahasakan sebagai tri kompetensi dasar renaissance.

Karenanya, cinta adalah emosi kebaikan yang menghentakan semangat memberi dalam jiwa kita. Itu sebabnya kita selalu menjadi lebih baik ketika kita sedang jatuh cinta. Itulah keunikan jiwa yang terus menambah kadar kebenaran dari fakta bahwa cinta sebagai emosi kebajikan harus bermetamorfosa pada semangat memberi, dan bahwa nilai kita kepada renaissance yang kita cintai tetaplah terletak pada kadar manfaat yang kita berikan padanya.

Teringat kembali awal mengikuti DAD dan sebagai pengurus, saya selalu ditemani oleh hujanan kritik karena ada banyak kesalahan yang sengaja dilakukan tapi juga lebih banyak ekspresi egoisme berlebihan yang juga saya tonjolkan. Ditengah situasi demikian, senior bukan hadir sebagai pengkhutbah yang mendoktrin habis-habisan, namun memanfaatkan situasi untuk menumbuhkan cinta kami terhadap komisariat, dengan polesan konflik yang terkadang saya sulit membacanya, walaupun kemudian saya lihai memainkannya...he”( maaf sedikit narsis)..dan eksperimen bodoh saya saat menjadi Master Of Training, kalau tidak salah DAD 2006 di SKB Blimbing membuat beberapa pengurus terutama bidang kader merasa tersinggung. Alhamdulillah lagi-lagi senior mampu menangkap suasana ini lalu menambah polesan konfliknya akhirnya sayapun merasa bersalah dan ujungnya? Kami semakin mencintai komisariat.

Saya juga masi ingat bagaimana saya sering di jebak di jalan yang benar oleh senior-senior; suatu waktu Mas Yudi diundang oleh komisariat UIN untuk ngisi materi di DAD, sayapun di ajak oleh Mas Yudi...eh..ternyata sampai disana saya diminta panitia mengisi Curiculum Vitae sebagai pemateri, rasanya ingin segera menghilang. Tapi, dengan cepat Mas Yudi mengatakan ingat.. jangan malu-maluin Fisip..sayapun beranikan diri dan hasilnya? Waw luar biasa ketagihan, pengen ngisi lagi materi... dan masi banyak lagi catatan panjang dengan Mas Ilham, Mas salam, Mas Yudi, Mas Riyan, Mas A'an, Mas Joko, Mas Agus, Mas Hutri dan tidak terkecuali kanda-kanda diluar komisariat renaissance Bang Ton, Mas Feri, Mas Hendro, Bang Tholib, Mas Uji dan Spesial for Immawati; Mba Yoanita dan Mba Ismi.

Akhirnya memang, Loyalitas dan militansi adalah kata kunci di balik semua dramatisasi konflik dan cinta. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah pilihan model, selalu punya syaratnya sendiri. Itulah komisariat renaissance tercinta. kita selalu menerima kritik disaat badai maupun tidak, menikmati setiap konflik yang ada lalu dengan tanpa sadar, kadar kecintaan mengalir bersama aliran energi positif. Kita selalu belajar dan terus bertanya pada siapapun, Apalagi pada senior walaupun terkadang membosankan. namun itulah tugas kita, adalah mengintegrasikan generasi sebelumnya dan generasi sekarang karena disana ada rahasia keindahan cinta yang tak ternilai.

Bagaimana dengan renaissance hari ini? Saya belum kenal persis memang wajah Renaissance “periode terbaru”. Namun saya yakin mereka adalah Para pencinta sejati yang tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai komisariat renaissance, mereka segera membuat rencana memberi. lalu mereka bekerja dalam tiem untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana terealisasi, setiap itupula satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati terhadap renaissance yang dicintainya. Karena mereka, semoga meyakini kaidah sederhana bahwa “Janji menerbitkan harapan, namun pemberianlah yang akan melahirkan kepercayaan”...

***
Teruskan baca - Apa Kabar Renaissance, Gimana Keadaanmu sekarang ???

Kamis, 17 Juni 2010

MENSOS BANTU MALUKU UTARA RP2 MILIAR


Halmahera Selatan, 11/6 (Antara/FINROLL Lifestyle) - Menteri Sosial menyerahkan bantuan Rp1 miliar kepada 50 kelompok usaha bersama dan Rp1 miliar untuk sejumlah pemilik rumah tidak layak huni di Maluku Utara.

"Ini adalah salah satu cara untuk mengurangi kemiskinan yang jumlahnya 14,1 persen agar jadi delapan persen pada 2014," kata Mensos Salim Segaf Al Jufri di Desa Bajo, Halmahera Selatan, Jumat.

Bantuan Rp1 miliar itu diberikan kepada 50 kelompok usaha bersama (Kube) di Maluku Utara masing-masing Rp20 juta. Satu kelompok beranggotakan sekitar 10 orang yang kebanyakan bermata pencarian sebagai nelayan.

Sementara itu, bantuan Rp1 miliar diberikan kepada 50 pemilik rumah tidak layah huni (RTLH) di Halmahera Selatan dan 50 RTLH di Halmahera Timur dengan nilai masing-masing KK Rp10 juta untuk merenovasi rumah mereka menjadi layak huni.

"Di seluruh Indonesia ada 2,3 juta KK yang tinggal di RTLH, Kemensos peduli dengan masalah ini dan memberikan bantuan kepada 3.000 pemilik RTLH per tahun, meskipun dana terbatas, dan berharap dengan bantuan ini kehidupan mereka bisa menjadi lebih baik," katanya.

Ia juga meminta Pemerintah Daerah mengawasi penggunaan dana tersebut, termasuk bagaimana dana untuk program KUBE bisa bergulir ke kelompok masyarakat lain.

Sementara itu, Kepala Desa Bajo, Halmahera Selatan, Ilyas Sani mengatakan, ada sejumlah Kube di Pulau Bajo yang bergerak di bidang perikanan dan sudah lama berjalan.

"Misalnya usaha kerupuk ikan. Cuma modalnya tidak ada. Karena itu saya bersukur pemerintah datang dan membantu kami," katanya.

Ia menambahkan bahwa lebih dari 70 KK warganya tinggal di RTLH.

Bupati Halsel Muhammad Kasuba mengatakan, bantuan ini penting untuk memulihkan kehidupan warganya pascakonflik.

(D009)
Teruskan baca - MENSOS BANTU MALUKU UTARA RP2 MILIAR

Rabu, 17 Maret 2010

PEMENANG DAN PECUNDANG


Pemenang selalu menjadi bagian dari solusi
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah

Pemenang selalu memiliki program atau rancangan
Pecundang selalu memiliki alasan ( pernyataan maaf )

Pemenang berkata “Biarkan saya yang melakukannya untuk anda”
Pecundang berkata “Itu bukan pekerjaan saya”

Pemenang selalu berusaha mencari jawaban dari setiap masalah
Pecundang melihat masalah dalan setiap jawaban

Pemenang berkata “Ini mungkin susah tapi memungkinkan untuk dilakukan”
Pecundang berkata “Ini mungkin dilakukan tapi terlalu susah untuk dilakukan”

Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan, ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”
Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan, i akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

Pemenang membuat komitmen-komitmen
Pecundang membuat janji-janji

Pemenang memiliki mimpi
Pecundang memiliki rencana kotor

Pemenang berkata “Saya harus melakukan sesuatu”
Pecundang berkata “Sesuatu seharusnya terkerjakan”

Pemenang adalah bagian dari tim
Pecundang terpisah dari tim

Pemenang melihat keuntungan
Pecundang melihat penyakit

Pemenang melihat kemungkinan
Pecundang melihat masalah

Pemenang meyakini win-win solution
Pecundang meyakini mereka harus success orang laen harus gagal

Pemenang melihat prospek
Pecundang melihat masa lalu

Pemenang seperti alat pengatur panas
Pecundang seperti alat pengukur panas

Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan
Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

Pemenang mengutarakan argumen yang kuat tetapi kata yang lembut
Pecundang mengutarakan argumen yang lemah tapi kata yang kuat ( memaksa )

Pemenang menggunakan filsofi :”Jangan melakukan sesuatu yang tidak ingin orang lakukan terhadap dirinya”
Pecundang menjalani hidup dengan filosofi “Lakukan ke orang lain sebelum orang lain melakukannya ke diri sendiri”

Pemenang membuat sesuatu terjadi
Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

Sumber: http://user36.wordpress.com/2009/02
Teruskan baca - PEMENANG DAN PECUNDANG

WAJAH BANGSAKU


BANGSAKU

Tergabung dalam wilayah negara-negara ASEAN.
Pernah Menjadi salah satu Macan ASIA.
Dahulu punya semangat juang yang tinggi mengusir penjajah dari negara-negara besar.

POTENSI BANGSAKU

Tanahnya subur
Rakyatnya banyak (200 juta lebih)
Potensi perairan luar biasa.
Sumberdaya alam melimpah
Multi etnic dan budaya
Daya tarik wisata luar biasa
Dan banyak lagi…

MENTAL BANGSAKU

Sopan santun ???
Kreatif ???
Korupsi ???
Penindas ???
Penipu ???
Apalagi…???

PRESTASI BANGSAKU

Penyelenggara PEMILU demokratis 2004.
Rakyatnya senang memecahkan REKOR MURI
Pengidap Flu burung terbanyak di dunia.
Kecelakaan transportasi terbanyak.
Negara paling banyak bencana alam.
Pengidap HIV yang setiap tahun meningkat populasinya.
Intensitas kriminalitas tertinggi di Asia Tenggara.
Pabrik Narkoba terbesar di Asia Pasifik.
Negara dengan tingkat Korupsi sangat tinggi.

RAKYAT BANGSAKU

Menderita Kemiskinan
Kerusuhan Merajalela
Korupsi menjadi budaya
Krisis mental

SAUDARAKU

Anda adalah bagian dari solusi penyelesaian masalah bangsa ini…
Anda adalah Orang-orang terpilih untuk memperbaiki masalah Bangsa
Apatis terhadanya samahalnya dengan menghianati bangsa ini
Saudaraku..... rapatkan barisan
Bersama bersatu berjuang menuju kemenangan
Buang rasa gentar tuk tumpaskan kezaliman
Marilah berpegangan tangan penuh pendirian
Menuju satu kemengan
Indonesia baru

WAJAH BARU BANGSA KITA

Macan ASIA
Terpelajar
BEBAS KKN
Demokratis
Tingkat perekonomian dengan tingkat pendapatan yang tinggi.
BIROKRASI KITA? MELAYANI BUKAN UNTUK DILAYANI

AMAN BANGSAKU !
JAYALAH BANGSAKU!

JALAN ITU MASIH TERBENTANG, BANGKITLAH HARAPAN ITU MASIH ADA....!!!
Teruskan baca - WAJAH BANGSAKU

Selasa, 22 Desember 2009

HIJRAH WAKTU


(Oleh : Herman Oesman)

"Tanpa kita menerima fakta bahwa semuanya akan berubah,
kita tidak akan mampu menemukan ketenangan."
(Shunryu Suzuki – Master Zen)

MENJALANI tahun 1431 Hijriyah dalam waktu dekat, tak berbeda dengan hari-hari biasa. Kita jalani apa adanya. Nuansa pergantian tahun (Hijriyah) dalam kalender Islam ini tidaklah sama dengan nuansa pergantian tahun Miladiyah (penanggalan Masehi) yang rutin kita lalui.

Pada setiap pergantian tahun Masehi (miladiyah), kita justru menanti detak jam pukul 12 malam dengan pesta dan hiruk-pikuk tak bermakna. Memukul tiang listrik, meniup terompet, mabuk dan sebagainya. Kita nikmati dan larut. Kita pun menjadi bagian dari pusaran waktu. Lalu setelah itu? Kita seolah menjalani hidup yang muspra.

Waktu Mekanis

Pergantian tahun dalam bentuk apapun, adalah waktu yang tidak konstan. Di sana ada ”perubahan”. Pendulum, jarum jam dan angka-angka yang secara mekanis mengalami pergerakan. Mulai dari angka satu sampai angka 12 yang terbagi menjadi 24 jam. Alan Lightman, seorang fisikawan kelahiran Memphis, Tennessee, Amerika Serikat tahun 1948, dalam bukunya Einstein’s Dreams (1999) melukisnya sebagai waktu-mekanis.Waktu mekanis ---menurut pandangan Lightman—yang terurai apik dalam catatan 24 April 1905 pada salah satu bagian dari buku itu menyebutkan, ”...kaku, laksana pendulum besi raksasa yang terayun-ayun maju-mundur, tak dapat ditolak. Sudah ditetapkan sebelumnya.” Waktu tetap bergerak, menggilas apa saja. Waktu tak dapat ditahan. Al-Qur’an pun memberi ’peringatan’ keras tentang berharganya waktu. Sehingga itulah, Tuhan pun bersumpah dengan waktu. (QS. Al-’Ashr).

Memang, mengarifi, memaknai dan menyikapi waktu tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Setiap putaran waktu, selalu kita genggam erat harapan-harapan. Kita ingin tetap sukses dan beruntung. Padahal, Lightman mengingatkan, mereka yang hanya ingin tetap sukses, beruntung, penuh sukacita dan takut musibah atau kesedihan, adalah orang yang tak siap menghadapi kenyataan atas berjalannya waktu.

Mengawali tahun (Miladiyah) dipenghujung 2009 ini, kita masih disentak rentetan musibah yang tidak ada habis-habisnya. Mulai insiden moda transportasi, longsor dan banjir yang menimpa saudara-saudara kita. Semua ini menumpahkan emosi dan meletakkan kesadaran kita pada titik nadir dan seolah ”menggugat” takdir. Pada konteks ini yang dapat mengisi ruang-ruang batin dan pikiran kita hanyalah Sang Pencipta. Dan karena itu, alangkah bijak dan paling pantas bila semua musibah itu kita kembalikan kepada Sang Pemilik Waktu.

Pada butiran waktu yang terangkai dan melintasi kehidupan, sudah tersedia ruang untuk di-taffakuri, direnungkan. Waktu memiliki dimensi banyak yang secara serentak seperti ruang. Merenungi perjalanan waktu, setidaknya memberikan kesadaran, bahwa di sana tak hanya hidup satu ruang, tapi begitu banyak ruang. Bahkan terlihat paradoksal. Saling berbenturan dengan akal sehat kita. Demikian halnya, suatu waktu, kita berada pada kepatuhan dan khusyu dalam menjalani pusaran arus ritus keagamaan. Namun, di lain waktu, kita menyaksikan, (bahkan) juga ikut melakoni dan terjebak pada penipuan, korupsi, perampokan, tindak kekerasan, dan sebagainya. Dalam waktu itulah, kita mencari identitas, kesejatian, dan bertanya tentang diri ini. Hanya pada waktu, kita mengelola diri, menjadi subyektif dan obyektif sekaligus.

Waktu Kesadaran

Pergantian tahun dan bergeraknya waktu setidaknya menyiratkan sebuah tekad, bahwa yang perlu ditaati adalah waktu kesadaran, bukan waktu mekanis. Karena dengan waktu kesadaran, kita tetap berada dalam keterjagaan. Tidak secara mekanis, menghitung detak jam dan berlalunya hari-hari tanpa sedikitpun memberikan perubahan pada watak dan perilaku kita. Apa jadinya, bila pada waktu kemarin, watak dan perilaku kita ternyata tetap sama, dan di waktu mendatang bahkan semakin menjadi-jadi. Semakin liar, serakah dan rakus. Mungkin inilah yang diingatkan Tuhan, dalam bahasa al-Qur’an, asfala saafiliin.

Waktu mendorong akal dan hati nurani kita untuk ikut bergerak, karena hanya akal dan hati nurani-lah merupakan nilai penentu bagi seorang manusia untuk melakukan sesuatu. Bukan status, harta dan kekuasaan. Titik.

Penanggalan tahun Hijriyah melalui bulan Muharram mengandung hikmah, bahwa pergantian waktu setidaknya merubah seluruh sikap dan watak kita menjadi lebih arif-bijaksana. Inilah saat hijrah akal dan hati nurani. Hijrah, boleh jadi memindahkan perilaku yang demikian keliru dan kasar menjadi lebih halus dan selalu sadar akan kekeliruannya. Hijrah adalah sedikit ruang untuk kita bertafakkur, merenung tentang waktu yang telah kita jalani.

Hijrah adalah pergerakan waktu kesadaran yang memang tidak butuh gegap-gempita dan seremoni. Tapi lebih pada semaraknya naluri dan nurani untuk tetap kokoh bertahan dalam gempuran perubahan waktu. Dengan hijrah, ada nilai-nilai kebajikan yang dapat diraih, sambil tetap berharap semoga nilai dan mental machiavelis (menghalalkan segala cara) tidak terulang, apalagi ditumbuh-suburkan.

Pada hijrah, kita berharap ada penghayatan waktu untuk menggumuli hidup lebih bermakna. Memperkaya jiwa dengan menumbuhkan kesadaran, karena itu waktu tidak harus disia-siakan, waktu harus dimaknai. Sehingga setiap musibah harus pula diselami dalam deterministik kesadaran. Hijrah adalah gerakan revolusi mental dan nurani melalui waktu kesadaran untuk memperbaiki tatanan-tatanan amburadul, mengatur sistem agar lebih sehat. Memperbaiki mental kita untuk lebih siap atas segala yang bakal kita hadapi. Hanya dengan itulah, hijrah lebih memberi manfaat.

Di tahun baru 1431 Hijriyah, mungkin dapat menjadi cermin besar untuk kita kembali berkaca, tentang apa yang sudah kita lakukan pada waktu-waktu kemarin. Sudah saatnya bangsa ini melakukan hijrah waktu, dari waktu mekanis menuju waktu kesadaran, untuk menyadari segala kekeliruan dan kesalahan yang selalu saja diperbuat. Tanpa itu, mungkin kita perlu menyelami hati sambil bertanya : ”manusiakah kita”? []
Teruskan baca - HIJRAH WAKTU