Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2009

“Gerak Melintas Zaman”, Tema Muktamar Muhammadiyah 2010


Yogyakarta – Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Keputusan Nomor : 107/KEP/I.0/B/2008 tertanggal 16 Juli 2008 menetapkan tema Muktamar tahun 2010 yaitu : Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, Gerak Melintas Zaman Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama.

Menurut penjelasan tertulis ketua SC Muktamar, Dr. Haedar Nashir, “Gerak Melintas Zaman” mengandung dua makna, pertama melewati masa sejak kelahirannya hingga usia ke-100, kedua menyeberangi yakni memasuki fase baru setelah usianya satu abad ke peralihan abad selanjutnya.

Lebih lanjut Haedar menjelaskan bahwa dalam melintasi zaman tersebut Muhammadiyah hadir sebagai gerakan Islam yang mengemban misi dakwah dan tajdid sebagaimana spirit awal kelahirannya yang tercantum dalam Statuten Muhammadiyah 1912: “menyebarluaskan” [dakwah] dan “memajukan” [tajdid] hal ihwal ajaran Islam di seluruh tanah air -- mula-mula di karesidensi Yogyakarta kemudian di seluruh Hindia Belanda -- saat itu). Dakwah dan tajdid Muhammadiyah tersebut tidak lain untuk mewujudkan “Peradaban Khaira Ummah” yakni peradaban masyarakat Islam yang sebenar-benarnya atau bisa diartikan sebagai manifestasi objektif atau objektivasi dari kehidupan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya di negara Indonesia.

Haedar dalam penjelasan satu halaman tersebut juga menyatakan bahwa Muhammadiyah dalam perjalanan usianya satu abad dapat dikatakan telah melewati dinamika zaman yang penuh perjuangan suka maupun duka dalam rentang tiga zaman yaitu era perjuangan kemerdekaan di masa kolonial, era setelah kemerdekaan di masa Orde Lama dan Orde Baru, dan era baru Reformasi yang masih akan berlangsung penuh pertaruhan. Muhammadiyah dalam pergantian abad dari kelahirannya akan memasuki abad baru sehingga dari titik abad tersebut Muhammadiyah akan melintasi zaman dengan segala tantangan, masalah, dan harapan baru ketika dunia berada dalam fase post-modern dan era globalisasi dengan seribusatu dinamikanya.

Menurut haedar, dalam menghadapi pergantian abad menuju fase baru itu Muhammadiyah dituntut merumuskan ulang orientasi/aktualisasi dakwah dan tajdid yang menjadi fokus gerakannya, sehingga mampu melampaui/melintasi zaman yang dilalui dan dihadapinya dengan penuh kesiapan untuk menghadirkan risalah Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin. (arif)

JALAN PANJANG PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII) MEMBINA KADER PEMIMPIN BANGSA YANG BERKEPRIBADIAN DAN BERPERADABAN ISLAM


Pelajar Islam Indonesia (PII), Kiprah dan Pergerakannya telah teruji dan memberi kontribusi yang besar bagi ummat dan bangsa. Gagasan untuk mendirikan PII adalah upaya untuk menutup adanya jurang pemisah yang sekian lama diciptakan oleh penjajah antara pelajar umum (hasil didikan pola belanda) dengan santri (pelajar Islam) hasil didikan pesantren yang sesungguhnya adalah sama – sama “pelajar” dari keluarga muslim.

Adalah Seorang Pelajar bernama Joesdi Ghozali yang menjadi inspirator pembentukan wadah bagi para pelajar Islam yang ketika itu belum terkoordinasi, cita – cita itu dirintis dalam pertemuan di Gedung SMP Negeri II Secodiningratan, Jalan Senopati Yogyakarta dengan dihadiri oleh Joesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amir Syahri, Ibrahim Zarkasji dan Noorsjaf yang menghasilkan kesepakatan pembentukan yang akan diusulkan dalam forum kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang dilangsungkan pada tanggal 30 Maret – 1 April 1947 di Gedung Muallimin, Yogyakarta.

Dalam Kongres GPII itulah Anton Timur Djaelani yang menjabat sebagai Pimpinan Pusat GPII bagian pelajar mengemukakan masalah GPII bagian pelajar dan pada saat itulah Joesdi Ghozali mengemukakan ide tentang perlunya organisasi pelajar yang terpisah sehingga kemudian timbullah diskusi diantara para utusan kongres yang sebagian besar akhirnya menyetujui lepasnya GPII bagian pelajar untuk dilebur menjadi Organisasi Pelajar Islam Indonesia. Dalam Kongres itu juga disusun draft AD/ART PII yang dibagikan kepada semua utusan untuk dibahas di daerahnya masing – masing.

Pada Hari Ahad, 4 Mei 1947 diadakan pertemuan di Gedung GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta yang secara resmi menetapkan AD/ART dan Mendeklarasikan penggabungan beberapa organisasi pelajar seperti Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta (PPII), Gerakan Pemuda Islam Indonesia Bagian Pelajar, Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS) dan Persatuan Kursus Islam Sekolah Menengah Surabaya (Perkisem) atas dasar kesamaan azas dan cita – cita. Pada tanggal 4 Mei itulah Pengurus Besar PII Pertama terbentuk dan sejak itulah tanggal 4 Mei dijadikan Hari Kebangkitan PII, disingkat HARBA PII, hari lahirnya kesadaran dan tanggung jawab sebagai Pelajar Islam terhadap agama, nusa dan bangsa.

PII ditengah Bahaya Merah PKI

Karena situasi negara yang masih “membara” untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan maka dalam tubuh PII muncul gagasan perlunya “Sumbangan PII dalam pertahanan dan pembelaan Negara”, sehingga dalam konferensi Besar I di Ponorogo terbentuklah “Brigade PII” yang dikomandani oleh Abdul Fattah Permana sebagai wadah untuk menyalurkan anggota PII yang berbakat di bidang ketentaraan ke Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah yang pada perkembanganya merupakan cikal bakal lahirnya TRI atau TNI dibawah kepemimpinan Panglima Besar Jendral Soedirman.

Dalam kesempatan menghadiri peringatan HARBA PII pertama di Yogyakarta, Pak Dirman memberikan sambutannya yang dapat dikutip sebagai berikut :

“Teruskan perjuanganmu, hai anak – anakku PII, negara kita adalah negara baru, didalamnya penuh onak dan duri, kesukaran dan tantangan banyak kita hadapi. Negara membutuhkan pengorbanan pemuda dan segenap bangsa Indonesia!”

Jika pada tahun 1945 GPII berhasil mencegah dominasi organisasi Pemuda Indonesia oleh Ideologi Kiri yang terlibat Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, demikian pula PII berhasil mencegah dominasi organisasi pelajar dari ideologi merah.

PII dengan Brigadenya berdampingan dengan laskar – laskar lainnya dari bangsa Indonesia terjun ke medan – medan pertempuran untuk mengusir penjajah yang ingin menjajah kembali negeri ini dan menumpas pemberontakan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO) di bawah pimpinan Amir Syarifuddin dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinan Muso di Madiun pada tahun 1948.

Selanjutnya, PII terlibat aktif dalam Konferensi Pemuda Antar Indonesia yang dihadiri oleh 28 organisasi pemuda dari seluruh tanah air, Konferensi ini pada tanggal 17 Agustus 1949 berhasil melahirkan sikap dan tekad Generasi Muda Indonesia yang dikenal sebagai “Manifest Pemuda Indonesia”, yang salah satu isinya adalah :

“Pembaharuan tekad, tenaga dan pikiran untuk melanjutkan perjuangan pemuda seluruh Indonesia dengan pedoman : berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, bertujuan kesempurnaan Negara Republik Indonesia yang satu, berdaulat dan merdeka, yang meliputi Kepulauan Indonesia (termasuk Irian Barat), dengan semboyan : satu bangsa, satu bahasa, satu negara Indonesia, dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan bendera merah putih”

Manifest Pemuda tersebut ditandatangani oleh 28 wakil – wakil organisasi pemuda Indonesia, sedangkan dari PII yang ikut menandatangani adalah A. Halim Tuasikal.

Satu lagi Peran penting PII yang patut dicatat adalah keterlibatannya dalam Kongres Muslimin Indonesia (20-25 Desember 1949) yang turut melahirkan Badan Kongres Muslimin Indonesia (BKMI) dengan pimpinan terpilih antara lain : KH A. Ghaffar Ismail, Anwar Haryono, dan Wali Al Fatah.

Dalam Kongres inilah PII mengajukan 5 (lima) pernyataan sikap yang sangat bersejarah yaitu :

1. Adanya Satu Partai Politik Islam, ialah Masyumi
2. Adanya Satu Organisasi Pemuda Massa Islam, ialah GPII
3. Adanya Satu Organisasi Pelajar Islam, ialah PII
4. Adanya Satu Organisasi Mahasiswa Islam, ialah HMI dan
5. Adanya Satu Pandu Islam, ialah Pandu Islam Indonesia (Hizbul Wathan)

Seiring Bahaya Merah PKI yang masih mengancam generasi muda Indonesia maka PII merasa terpanggil untuk menentukan sikap. Pada Kongres Pemuda Indonesia di Surabaya (14-15 Juni 1950), PII melihat adanya ketidakserasian karena masing – masing golongan ingin saling menguasai. Blok – blokan ini terjadi karena Kongres Pemuda ini banyak ditunggangi oleh aliran kiri (Pesindo Pemuda Rakyat), bahkan mereka secara terang-terangan memasang gambar foto “suripto”, salah seorang pemimpin pemberontakan PKI di Madiun. Atas dasar inilah Pengurus Besar PII secara tegas memutuskan menolak bergabung dalam Front Pemuda Indonesia.

Pada tahun 1965, PII dengan Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI)-nya dibawah kepimpinan M. Husnie Thamrin yang menjadi Ketua KAPPI Pusat menjadi ujung tombak angkatan enam – enam, menumpas G30S/PKI sampai ke akar – akarnya.

PII dan Gerakan Amal Sholeh

Setelah PKI Bubar dan pemerintahan beralih dari orde lama ke orde baru maka PII mengubah haluannya yakni tidak lagi terjun ke kancah politik praktis dengan kembali kepada ideologi perjuangan semula sebagai organisasi pelajar dengan mengaktulisasikan diri dalam Program GAS (Gerakan Amal Sholeh) yang terkenal dengan slogan Kembali ke Masjid, kembali ke Bangku Sekolah dan Kembali ke Kampung. GAS merupakan usaha PII untuk ikut menanggulangi krisis moral yang melanda generasi muda sekaligus mengarahkan PII untuk bergiat dalam pendidikan dalam rangka membangun bangsa dan negara yang diridhoi Allah SWT.

Sebagai organisasi massa sosial dan pendidikan, PII telah mempunyai suatu sistem latihan yang efektif bagi generasi muda yaitu :

1. Latihan Kepemimpinan (Leadership Training) bagi para anggotanya dari mulai tingkat dasar sampai tingkat lanjutan
2. Latihan Kejiwaan (Mental Training) dan pesantren kilat yang terbuka untuk semua generasi muda.
3. Latihan Kerja Kemasyarakatan (Perkampungan Kerja Pelajar/Pemuda) dan Brigade Pembangunan yang terbuka untuk semua generasi muda.

PII dan masa depan Kepemimpinan Nasional

Pergerakan Pelajar Islam Indonesia dengan pemberdayaan potensi pelajar dan generasi muda yang senantiasa diperjuangkannya, menjadikan PII membuka jalan bagi mempersiapkan kader – kader pemimpin yang berkepribadian dan berperadaban Islam. Jadi tidaklah berlebihan jika kini banyak nama – nama alumni PII yang berkiprah dan berperan strategis di berbagai bidang termasuk juga dalam hiruk pikuk pentas politik negeri ini.

Meski PII memiliki kedekatan sejarah dan emosional dengan Partai Masyumi yang dikenal sebagai Keluarga Besar Bulan Bintang namun PII maupun Keluarga Besar PII tetap independen dan tidak ber-afiliasi pada salah satu partai politik tertentu.

Kendati sebagian besar mantan petinggi PII melabuhkan pilihan politiknya kepada PBB (Partai Bulan Bintang / Partai Bintang Bulan) diantaranya Dr. Anwar Haryono, Hussein Umar, Abdul Qodir Djaelani, Hartono Marjono, dan banyak yang tidak tersebutkan namun tidak sedikit mantan aktivis PII yang berkiprah di partai lain seperti AM Saefuddin dan Husni Thamrin di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Abdul Hakam Naja dan AM Fatwa di Partai Amanat Nasional (PAN) dan beberapa diantaranya juga menjadi deklarator dan pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) seperti Mutammimul Ula.

Dibalik fakta ini PII sebagai organisasi pelajar dituntut untuk tampil independen dan tidak larut dalam pragmatisme politik sebab PII dengan Gerakan Amal Sholeh-nya senantiasa dinanti kiprah dan sumbangsih-nya dalam mempersiapkan kader-kader ummat dan bangsa yang berkepribadian dan berperadaban Islam.


(Ditulis Oleh : Badrut Tamam Gaffas dan Badriyah Handayani untuk Bulan Bintang Media, Sebagian materi tulisan ini dikutip dari Buku “Pak Timur Menggores Sejarah”, Penerbit PT. Bulan Bintang, Cetakan I tahun 1997, Editor : H.M Natsir Zubaidi dan Moch Lukman Fatahullah Rais, SH.)

Senin, 23 Februari 2009

AKSI IMM

"Berani Aksi Dan Bertanggung Jawab" Itulah IMM. Barisan Pemuda Islam Yang teratur lagi kokoh, yang siap jiwa dan raga tuk perjuangan umat dan bangsanya. setiap detak jantung adalah perjuangan, perjuangan untuk pembebasan rakyat, membebaskan rakyat dari ketidak tahuannya, dari kemiskinan dan segala bentuk penindasan. rakyat harus menjadi subjek bagi perubahan bangsa ini. itulah cita Suci IMM





Senin, 22 Desember 2008

PERNYATAAN PERS JARINGAN AKSI ANTI-KORUPSI JATIM

SBY-JK Gagal Memberantas Korupsi di Jawa Timur

Pemerintahan SBY-Kalla yang mengusung perubahan dalam negeri ini belum menampakkan hasilnya secara nyata. Hal ini terbukti, ketika kita merlihat realitas politik lokal menunjukkan bahwa persoalan korupsi tetap subur dilakukan oleh pejabat negara. Realitas ini semakin mengukuhkan bahwa rezim SBY-JK tidak serius dalam pemberantasan korupsi.
Janji 100 hari SBY-JK dalam pemberantasan korupsi hanya menjadi agenda belaka, akan tetapi secara praksisnya para koruptor di daerah sampai saat ini belum ditangani secara serius. karena, transaksi politik-hukum tak bisa dihindari, aparat penegak hukum yang menjadi aktor dominan dalam proses pemberantasan korupsi justru menjadi pelaku utama dalam praktek korupsi.
Sesuatu yang mustahil, mengadili koruptor sementara lembaga penegak hukumnya justru memiliki mental yang korup pula. Maka, pemberantasan korupsi hanya selalu menjadi agenda bagi lembaga pemberantasan korupsi. Dan hasilnya sampai detik ini belum nampak secara nyata.
Sudah menjadi kenyataan yang amat buruk bagi citra bangsa Indonesia saat ini, hasil penelitian Transparency Internasional Indonesia mencatat bahwa negara ini menjadi negara terkorup dari 133 negara. Jakarta merupakan Kota paling korup, sementara disusul oleh Kota-kota besar lainnya; seperti Kota Surabaya, Semarang Medan dan Batam (kompas,28 /03/05)
Rezim SBY-JK tidak mampu merubah wajah bangsa ini menjadi lebih baik. Bahkan perilaku korup merajelela di daerah, seolah perilaku korup pejabat negara tak mampu kita bendung. berbagai cara yang dilakukan oleh teman-teman aktifis untuk melawan korupsi ternyata banyak mengalami hambatan, hal ini terjadi karena lembaga penegak hukum tidak merespon positif terhadap isu pemberantasan kosupsi, karena mereka juga menjadi bagian dari koruptor .
Jawa Timur sebagai salah satu daerah di Indonesia yang tingkat korupsinya juga tinggi, ternyata dalam 100 hari SBY-JK telah gagal melakukan perubahan dan membawa bangsa ini menjadi lebih bermoral dan mermartabat. Sehingga kami dari Jaringan Aksi Anti-korupsi Jatim menilai bahwa :
1.SBY-JK gagal memberantas Korupsi di Daerah Jawa Timur
2.Aparat penegak hukum seperti kepolisian, Jaksa dan Hakim, lebih tunduk kepada kaum pemodal ( God Father) yang korup
3.Koruptor masih berlindung dan dilindungi dalam Ketiak aparat penegak hukum.
4.Jaringan Aksi Anti-korupsi Jatim akan melakukan monitoring terhadap proses pelaksanaan Pilkada yang akan berlangsung.
Demikian pernyataan Jaringan Aksi Anti-korupsi Jatim, yang disampaikan dalam acara Regional Meeting Jaringan Aksi Anti-korupsi Jatim.

Batu, 7 April 2005

Kamis, 18 Desember 2008

PERIODEISASI KEPEMIMPINAN PP IMM

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
DARI PERIODE Ke PERIODE
 
 
PERIODE 1965-1967 Hasil Munas/Muktamar I di Solo
Ketua Umum : Mohammad Djazman Al-Kindi (Alm)
Sekretaris Jenderal : Syamsu Udaya Nurdin
Bendahara : Zuhdi Djunaidi
 
PERIODE 1967-1970 Hasil Munas/Muktamar II di Banjarmasin
Ketua Umum : Mohammad Djazman Al-Kindi (Alm)
Sekretaris Jenderal : Bahransyah Usman (Alm)
Bendahara Umum : Abuseri Dimjati
 
PERIODE 1971-1974 Hasil Munas/Muktamar III di Yogyakarta
Ketua Umum : A. Rosyad Saleh
Sekretaris Jenderal : Machnun Husein
Bendahara Umum : Mawardi Abbas
 
PERIODE 1975-1978 Hasil Muktamar IV di Semarang
Ketua Umum : Zulkabir.
Sekretaris Jenderal : M. Alfian Darmawan
Bendahara Umum : M. Alfian Darmawan (ad-interim)
 
PERIODE 1985-1986 DPPs
Ketua Umum : Immawan Wahyudi
Sekretaris Jenderal : M. Arifin Nawawi
Bendahara I : St. Daulah Khoiriati
 
PERIODE 1986-1989 Hasil Muktamar V di Padang
Ketua Umum : Nizam Burhanudin SH
Sekretaris Jenderal : M. Arifin Nawawi
Bendahara Umum : Chandrawati Arifin
 
PERIODE 1989-1992 Hasil Muktamar VI di Ujung Pandang
Ketua Umum : Agus Syamsuddin
Sekretaris Jenderal : Ahmad Haser
Bendahara Umum : (belum terindentifikasi)
PERIODE 1992-1995 Hasil Muktamar VII di Purwokerto
Ketua Umum : Tatang Sutahyar
Sekretaris Jenderal : Syahril Syah
Bendahara Umum : (belum terindentifikasi)
PERIODE 1995-1997 Hasil Muktamar VIII di Kendari
Ketua Umum : Syahril Syah
Sekretaris Jenderal : Abdul Rohim Ghazali
Bendahara Umum : Gusnul Alfian
PERIODE 1997-1999 Hasil Muktamar IX di Medan
Ketua Umum : Irwan Baadila
Sekretaris Jenderal : M. Irfan Islami Dj.
Bendahara Umum : Riki Ikrimal
 
PERIODE 1999- 2001 Hasil Muktamar Luar Biasa di Jakarta
Ketua Umum : Gunawan Hidayat
Sekretaris Jenderal : Yusuf Warsyim
Bendahara Umum : Imal Isti’mal Al Bantani
 
PERIODE 2001-2003 Hasil Muktamar X di Palembang
Ketua Umum : Piet Hizbullah Khaidir
Sekretaris Jenderal : Endy Sjaiful Alim
Bendahara Umum : Yayat Suyatna
 
PERIODE 2003-2006 Hasil Muktamar XI di Bali
Ketua Umum : Ahmad Rofiq
Sekretaris Jenderal : Budi Santoso
Bendahara Umum : Hendri Kurniawan
 
PERIODE 2006-2008 Hasil Muktamar XII di Ambon
Ketua Umum : Amiruddin
Sekretaris Jenderal : Siar Anggretta Siagian
Bendahara Umum : M. Husin AB
 
PERIODE 2008-2010 Hasil Muktamar XIII di Bandar Lampung.
Ketua Umum : Rusli Halim Fadli
Sekretaris Jenderal : Ton Abdillah Has
Bendahara Umum : Azis Abdul Azis Anshari 
 

REKOMENDASI MUKTAMAR IMM

1.       IMM hendaknya tetap mempertahankan gerakannya berlandaskan trikompetensi: keilmuan, keagamaan dan kemasyarakatan. Kesanggupan hidup dalam setiap perubahan menuntut setiap kader dan pimpinan IMM mampu menafsir trikompetensi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman.
2.       Setiap kader IMM hendaknya terus mengembangkan nilai-nilai kritis, progresif dan kepeloporan; menjadikan IMM sebagai laboratorium gerakan bagi seluruh kader ikatan dengan mengembangkan teologi pembebasan: anti-ketidakadilan, anti-penindasan dan anti-penjarahan. Agar kader IMM memiliki kemampuan kritis dan praksis dalam arah gerakan, maka setiap hirarkis struktur kepemimpinan IMM dari PC, DPD dan DPP hendaknya mengembangkan pelatihan advokasi, analisis sosial dan analisa kebijakan publik.
3.       Atas kelesuan dan mandulnya gerakan mahasiswa (student movement) untuk mengkritisi setiap kebijakan publik yang dibuat eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga negara yang lain maka IMM harus segera mengambil inisiatif untuk mempelopori kembali gerakan mahasiswa sebagai kontrol moral dan kontrol sosial.
4.       Untuk menjaga moralitas bangsa dan komitmen ke-Indonesiaan, IMM harus terus mengajak seluruh komponen bangsa dan mempelopori aliansi-aliansi organ kepemudaan dan kemahasiswaan untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia dari ancaman: kapitalisme global, neo-imperialisme, neo-liberalisme dan neo-komunisme. IMM harus tetap mempertahankan citra diri gerakannya sebagai gerakan moral, melawan segala bentuk pembusukan moral bangsa, seperti: politik uang, korupsi dan manipulasi.
5.       Mewabahnya gerakan infiltrasi yang dilakukan sebuah omek atau partai politik tertentu dalam kehidupan organisasi kemahasiswaan yang mengakibatkan dualisme posisi kekaderan IMM (sebagai kader IMM dan kader omek tertentu), maka seluruh PC IMM harus segera melakukan pemetaan dan penertiban kader.
6.       Menyikapi berbagai masalah kehidupan IMM di PTM, maka perlu ditegaskan kembali bahwa IMM adalah satu-satunya organisasi ekstra yang hidup dalam PTM atas posisinya sebagai ortom (organisasi otonom), dan Rektor/Ketua PTM bertanggung jawab atas pembinaan dan penyediaan fasilitas IMM di PTM. Disamping itu, minimnya fasilitas yang dimiliki komisariat dan korkom diluar PTM, maka hendaknya PTM memberikan kontribusi atas keberadaan komisariat dan korkom, baik berbasis PTN maupun PTS lain dalam satu kota di tempat PTM berada. Untuk kebutuhan hal tersebut, perlu dibuat struktur baru dalam bidang di DPP IMM, yakni Lembaga Khusus Perguruan Tinggi.
      Fungsi Badan Khusus Perguruan Tinggi adalah: (1) melakukan pemantauan dan pembinaan IMM berbasis komisariat dan korkom; (2) memfasilitasi pertemuan korkom nasional; (3) mendorong lahirnya IMM di luar PTM; (4) berkoordinasi dengan DIKTI dan PTM untuk mengembangkan IMM; serta (5) melakukan pemantuan dan pemetaan terhadap kehidupan politik kampus.
7.       Untuk menyegarkan gerakan spiritualitas IMM dan menggembirakan kembali gerakan dakwah kampus, maka IMM harus mendorong struktur baru dalam sebuah bidang, yakni Bidang Dakwah.
      Fungsi Bidang Dakwah diantaranya: (1) menggembirakan gerakan spiritual dan moral di lingkungan kampus; (2) menjadikan masjid dan taman kampus sebagai sarana untuk menyegarkan kajian-kajian ke-Islaman; (3) menghadang gerakan pendangkalan moral dan aqidah oleh kelompok-kelompok tertentu; (4) mensyiarkan IMM sebagai gerakan moral-intelektual; serta (5) mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang damai dan bersahabat.

Jumat, 04 April 2008

BEM Universitas Muhammadiyah Malang


TRI KONSOLIDASI BEM UMM1
”Penguatan Visi Kepeloporan Sosial Mahasiswa”

Oleh:Rahmat Abd Fatah

Jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat
kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau akan hjancur
(Wiji Tukul: Tembok dan bunga)

Genealogi gerakan mahasiswa tidak bisa disangkal lagi. Sebagai agen perubahan, mahasiswa telah menoreh tinta emas dalam pusaran kebangsaan. Bahkan sampai dianalogikan oleh Arief budiman sebagai Kowboy yaitu entitas manusia yang turun ke jalan dan tanpa pamrih menggugah kesadaran-kesadaran rakyat.

Sebagai entitas perubah ciri mahasiswa sesungguhnya adalah RUSAK (radikal, universal, sistematis, analitis dan kritis) kesadaran tersebut kemudian tidak berhenti pada ruang-ruang kosong yang hampa namun membumi dan atau berada pada ruang dan dimensi apa saja dan tetap teguh pendiriannya (istiqamah dalam perjuangan).

Memang disadari bersama gerakan mahasiswa bukan tanpa rintangan, namun tetap sesekali berada dipersimpangan jalan dan bahkan kini mulai redup. Sebuah gerakan struktural yang pernah dengan terang-terangan mematikan gerakan mahassiswa adalah diberlakukannya NKK dan BKK oleh pemerintah Tetapi kemudian ruang kebebasan itu terbuka paska runtuhnya rezim otoritarianisme. Namun tidak disangka ruang kebebasan itu memunculkan penjajah baru yang lebih kejam yaitu (neo) imprealisme, (neo) kapitalisme dan liberalisme yang memunculkan indifidualisme dan budaya instan dilingkungan akademik yang tentunya membuat kita berpikir ulang untuk mencari alternatif dan strategi perubahan itu.

Oleh karena itu Sebagai mahasiswa disebuah perguruan tinggi yang bercirikan islam. Tentu saja konsepsi gerakan yang melatari tidak sekedar berwacana, konsepsi yang dibangun adalah konsepsi pembebasan, atau lebih tepat meminjam Farid Esack adalah teologi liberatif terhadap kaum tertindas. Sehingga islam (Allah dan Rasul) benar-benar menjadi pointer penting dalam proses transformasi sosial.

Gerakan mahasiswa hendaknya berangkat dari khitah perjuangannya sebagai minoritas kreatif berciri RUSAK (radikal, universal, sistematis, analitis dan kriis) yang memiliki pemahaman utuh dan menyeluruh tentang realitas yang diperjuangkannya. Sehingga konsepsi ini meniscayakan mahasiswa menggugah niat untuk terlibat mengenal, merasa dan turut dalam proses substansi manifestasi nilai-nilai kemanusiaan yang liberatif emansipatif itu menjadi fakta sosial yang mebebaskan.

Kerangka gerakan diatas meniscayakan Badan eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM untuk concern pada basis pemberdayaan atau lebih tegas lagi kembali kepada khitah perjuangan mahasiswa. Namun satu hal yang tetap menjadi catatan adalah posisi badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM) yang berada ditengah multi orientasi dan multi kepentingan. Dan bahkan dianolgkan sebagai state miniature yang tentunya memiliki struktur diatas maupun dibawahnya sebaga satu kesatuan sistem. Oleh karena itu BEM kedepan tetap dan harus mengakomodasi seluruh kepentingan itu dengan seobjektif mungkin.

Dengan melatari hal dimaksud maka ada TIGA PROGRAM DAN KEBIJAKAN STRATEGIS atau tri konsolidasi yang segera dilakukan oleh BEMU periode 2007-2008 yaitu :

Konsolidasi Struktural
Konsolidasi Intelektual dan
Konsolidasi Gerakan

KONSOLIDASI STRUKTURAL

Badan eksekutif mahasiswa merupakan satu dari bagian sistem struktur perguruan tinggi yang diberikan peran untuk melakukan proses rekayasa intelektual, rekayasa gerakan, rekayasa kreatifitas bahkan rekayasa batin kepada seluruh masyarakat mahasiswa dalam rangka untuk menggapai cita-cita universitas sebagai sistem makro. Dilain hal seringkali Badan eksekutif mahasiswa dianalogikan sebagai state miniatur yang diperkecil dengan kondisinya sebagai organisasi mahasiswa dalam wilayah perguruan tinggi. Dengan demikian maka tentunya Badan eksekutif mahasiswa sudah selayaknya melakukan konsolidasi struktural dengan mengaplikasikan sistem state administration.

Sistem state administratioin sendiri dalam kontek demokrasi modern telah berubah tidak berisi cetusan pikiran atau pendapat oleh pejabat saja namun, opini publik (publik opinion) harus diakomodasikan dalam kebijaksanaanya dan setiap kebijaksanaan haruslah berorientasi pada kepentingan publik (publik interest) bahkan Georg Frederic Goerl (Dalam Irfan Islamy ``Prinsip-prinsip perumusan kebijaksanaan negara hal-10-11) menekankan harus adanya pendidikan politik bagi administrator agar mereka menjadi publik-spirited citizen yaitu selalu peka dan senantiasa berorientasi pada kepentingan publik.

Dalam kontek konsolidasi struktural GF Goerl memberikan tiga hal sebagai tugas yang harus dilakukan yang dalam kontek BEM (badan eksekutif mahasiswa) bisa dirumuskan sebagai berikut :

-Sebagai birokrat BEM harus memiliki karakter pelaksana kebijakan dan bisa mengakomodasi berbagai sub sistem yang berada dibawahnya dengan selalu melakukan kerjasama atas dasar profesionalisme.
-sebagai pemain (aktivis) atau corong politik BEM bekerja untuk kepentingan publik mahasiswa atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan selalu mempertahankan kepentingan publik dan institusi serta dalam memainkan peran politiknya ia selalu disemangati dengan kepentingan publik
-sebagai profesional ia memilki kemampuan teknis sebagai spesialis dalam menjalankan tugas-tugasnya dan selalu berorientasi pada pemberian pelayanan yang baik sebagai fungsi pelaksana. Selain itu dengan profesionalismenya BEM bukanlah milik satu golongan namun milik semua entitas mahasiswa.

Adapun pendekatan kebijakan strategis yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Merencanakan, menyusun, membuat, yang selanjutnya merekomendasikan peraturan pokok tentang Lembaga Intra dalam bentuk Konstitusi Lembaga Intra.
3. Menyelenggarakan program dan aktivitas untuk memupuk soliditas dan kebersamaan antar lembaga intra, dan lembaga kemahasiswaan lainnya dalam hal posisi dan pelaksanaan peran organisasi pengembangan kemahasiswaan di UMM.
4. Responsibiliti terhadap berbagai kebijakan kampus yang memang tidak mampu merepresentasikan kepentingan mahasiswa

KONSOLIDASI INTELEKTUAL

Istilah Intelektual pertamakali muncul sebagai akibat kontroversi yang mengguncang prancis pada akhir abad-19. term tersebut digunakan oleh orang kanan yang ditujukan untuk pemikir prancis yang memimpin kubu anti pengadilan Dreyfus pada tahun 1896. dengan demikian intelektual seringkali dipadankan dengan pribadi yang mampu memproduk ide dan yang memiliki Conciusnies untuk melakukan perubahan dimasyarakat.

Oleh karena itu konsolidasi intelektual harus selalu berbanding lurus dengan konsolidasi gerakan dan begitupun sebaliknya. Meminjam Antonio Gramsci dalam bukunya ”Selections from prison Notebooks” bahwa semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua masyarakat memiliki fungsi intelektual itu. Antonio membagi intelektual menjadi dua yaitu pertama, intelektual tradisional (mekanik) yaitu ada pada mereka yang memiliki kesadaran untuk terus melakukan perubahan dimana berjalan secara simultan dari generasi kegenerasi berikutnya. Mereka yang kerena ideologi, agama dan monopoli menyebar ide dan memediator antara masa rakyat dengan kelas diatasnya.

Dengan demikian intelektual sebagai hal sakral dalam masyarakat kampus hendaknya selalu hidup dan mewarnai setiap aktifitas keseharian mahasiswanya. Intelektual pada kontek ini adalah berproses untuk menjadi ”Centre Of Excellent” pusat-pusat unggulan terutama sisi intelektual dan gerakan. melalui wadah inipula diharapkan muncul ide-ide segar pembaharuan. Sebagai kelompok intelektual, selalu berpikir universal tidak sempit dan tersekat oleh kotak-kotak ekslusivisme. Produk-produk pikirannya tidak bernuansan kelompok dan harus bisa menjadi rahmat bagi semua masyarakat kampus.

Disisi lain perguruan tinggi tidak saja terdiri dari komunitas mahasiswa, dosesn dan instrumen administrasi saja namun lebih dari itu sebagai misinya perguruan tinggi merupakan sumber atau arena bagi ilmu pengetahuan yang kemudian bisa mengkonstruksi pola pikir dan pola tindak manusia yang berada didalamnya. Satu kata wajib yang sering kali kita dengar dalam dunia perguruan tinggi adalah kata kata akademik, masyarakat akademik dan seterusnya. Suatu kata dimana didalamnya terjadi proses dialektika knouledge.

Dengan demikian pengembangan wacana keilmuan menjadi wajib dilaksanakan oleh perguruan tinggi dan segenap instrumen sistem yang berada didalamnya tidak terkecuali BEM (badan ekesekutif Mahasiswa) UMM yang merupaka sub sistem dari sistem besar yakni perguruan tinggi untuk terus komitmen dalam wacana keilmuan sebagai wujud tradisi perguruan tinggi yakni budaya akademik.

Kebijakan Strategis Intelektual

-menyelenggarakan kegiatan yang berbasis keilmuan dengan mengembangkan kesadaran atau budaya ilmiah, mendorong Mahasiswa untuk melakukan riset, dan menumbuhkan kemampuan rasionalitas dan logis
-Menyelenggarakan kegiatan yang beriorientasi pada peta pemikiran dan atau perubahan dialektika sehingga mampu memahami diskursus intelektual yang ada dan bahkan yang akan terjadi

KONSOLIDASI GERAKAN

Konsepsi gerakan mahasiswa indonesia tidak bisa dinafikan berangkat dari landasan sosiohistoris yang telah merealita. Dimana mahasiswa mampu menorehkan tinta emas dalam setiap pusaran kebangsaan. Namun kemudian seiring dengan pusaran kebangsaan itu, pusaran global tidak bisa terlepas dengannya ia berjalan ditengah telaga kebangsaan dan sesekali berupaya mencabut akar serabut kebangsaan itu dengan berbagai kecanggihannya. Sehingga tak jarang mahasiswa dalam proses transformasi kesadaran maupun transformasi sosial mengalami hambatan yang sangat akut.

Dengan melihat kondisi seperti diatas maka tentunya gerakan mahasiswa harus diformat kembali disesuaikan dengan realitas kehidupan saat ini, gerakan mahasiswa sudah saatnya melakukan upaya-upaya rekayasa kesadaran, menumbuhkan semangat idealisme untuk menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus secara bersama merebut perubahan.

Proses perubahan tidak akan pernah terjadi jika gerakan yang dibangun tersekat oleh ruang eklusifisme dan tidak membumi, gerakan mahasiswa kini harus dikonstruksikan sepopulis mungkin menyentuh kebutuhan basic rakyat. Karena bagaimanapun kita harus jujur bahwa gerakan mahasiswa yang dilakukan paskah era reformasi mendapat jalan buntuh. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Apalagi melihat gerakan aksi jalan yang dilakukan saat ini cenderung sesaat dan tidak memiliki visi yang jelas.

Ketidak jelasan visi gerakan bisa dilihat dari materi aksi yang disampaikan dimedia. Sesekali dan selalu saja materi aksi tidak pernah disampaikan atau bahkan tidak diliput oleh media namun yang kita lihat dilayar kaca adalah kondisi Chaos dan konflik lainnya. Disisi lain sasaran aksi hanya ditujukan untuk kampanye tanpa ada proses pengawasan dan keberlanjutannya. Oleh karena itu kiranya gerakan mahasiswa saat ini harus dikonstruksi kembali atau meminjam Farid Esak adalah menggunakan teologi liberatif terhadap kaum tertindas yaitu sebuah aksi sosial yang dilakuan secara sistematis dan terarah, tidak bersembunyi dibalik tirai ekslusifisme namun sekali lagi harus membumi.
***
1 Selengkapnya (www.bemumm.blogspot.com)

Selasa, 25 Maret 2008

Ilustrasi Aksi Masa


MANAJEMEN AKSI
R.A.Fatah

Aksi masa mahasiswa, bukan saja mendahulukan kepentingan masyarakat luas. namun juga menjadi tempat bagi individu-individu untuk memajukan kesadarannya yang selama ini masi dipecundangi oleh penguasa. dengan aksi masa kita dapat belajar bersama tentang nilai perjuangan, kebersamaan dan persatuan bahwa didalam persatuan ada kekuatan dan didalam kekuatan ada visi yang siap dieksekusi bersama dan satu hal yang harus ada sebagai peserta aksi adalah keinginan dan kehendak yang kuat akan perubahan.


Bentuk Aksi Masa


aksi masa dikenal dalam berbagai bentuk sesuai dengan target dan sasaran aksi. ada dua bentuk aksi yaitu aksi statis dan aksi dinamis. aksi statis adalah aksi masa yang dilakukan pada satu titik tertentu dari awal sampai ahir. sedangkan aksi dinamis adalah aksi masa yang dilakukan pada satu titik tertentu dan berahir pada titik lainnya sebagai sasaran, sebagai contoh


1. Rapat Akbar
2. Long March
3. Mimbar bebas
4. Panggung Kesenian dll


Jadi Image bahwa aksi Dikonotasikan dengan kekerasan adalah tidak benar. mahasiswa kini sudah terlihat apatis dengan strategi gerakan masa semacam ini, padahal isu yang di demonstrasikan melalui turun jalan, rapat akbar, mimbar bebas, panggung kesenian yang merupakan karakter gerakan mahasiswa, terbilang efektif menyampaikan pesan moral, dan semangat perubahan baik terhadap khalayak maupun kepada peserta aksi sendiri.


Tahapan menuju Aksi Masa


Setiap aksi dilakukan bukan terjadi begitu saja, namun melalui setingan yang matang mulai dari isu apa, siapa saja yang bisa diajak, perangkat aksi yang akan bertugas, dan institusi yang akan dituju.


PRA AKSI


Sebelum aksi, yang harus disiapkan adalah:


SUBSTANSI
a) Isu yang diangkat Contoh:


- Ekonomi, politik masyarakat


b) Target aksi


- Kampanye masa, untuk kampanye propaganda bisa dengan rally damai keliling kota dan tidak perlu menetapkan sasaran aksi (misalnya kantor-kantor pemerintah) sasaran kampanye adalah kebasis-basis masa. Tetapi untuk meraih opini publik, jangan lupa mengontak pers. Jika masa tidak mencukupi untuk rell, mungkin cukup aksi statis dengan orasi dan bagi-bagi selebaran. Kemudian melihat titik aksi yang menjadi konsentrasi masa rakyat.


- Mengajukan tuntutan. Aksi seperti ini biasanya terkait tuntutan ekonomi atau politik dan bisa jadi campuran. Buru misalnya pembatalan PHK sepihak, mahasiswa; kenaikan SPP, penolakan pemecatan imawan/ti di kampus, sasaran aksi misalnya; pabirk,Disnaker, Depnaker, balaikota, gubernuran, DPR,DPRD, kejaksaan, kepolisian, Rektorat, Dekanat, PDM, dll.


- Bentrok. Setingan bentrok bertujuan menaikan opini ke-publik. Aksi bentrok bisa menetapkan sasaran aksi, namun biasanya tidak penting, sebab jarang nyampe kesasaran aksi. Karena biasanya tuntutan yang kelewat politis, sehingga diblokade aparat jauh dari sasaran aksi. Yang penting adalah tuntutan kita terkover oleh madia dan menunjukan kemasyarakata watak otoriter pemerintah walau dengan manis mengatakan populis, demokratis, dsb.


TEKNIS


a. Penentuan rute aksi


Rute harus dipkirkan dengan sebaik mungkin karena juga untuk menarik masa diluar garapan kita atau titik berkumpulnya masa.


b . Penyusunan perangkat aksi (secara lengkap) :


Koordinator lapangan (Korlap), bertanggung jawab penuh dan berwenang keseluruhan aksi misalnya ketua umum IMM Cabang, Korlap harus dipatuhi tanpa protes, adapun kritik-kritik dilakukan pasca aksi. Jika aksi adalah aksi gabungan, Korlap fungsinya hanya koordinator. Keputusan ditentukan berdasarkan kesepakatan berbagai elemen yang tergabung/ disaat diskusi dengan elemen-elemen yang ada, kepemimpinan korlap diambil alih oleh wakil korlap.
wakorlap fungsinya menggantikan Korlap jika, berhalangan atau apabila tertangkap




  1. Tim orator (Propagandis) tim ini bertugas mempropagandakan isu ke-masa aksi dan ke-masa rakyat


  2. Tim agitator. Fungsinya menyemangati masa aksi dengan meneriakan yel-yel dan lagu-lagu perjuangan (Mars) maupun Himne (melihat kondisi masa aksi)


  3. Tim keamanan/Aster. Berfungsii menjaga barisan agar tetap solid, mencega masuknya intel kedalam barisan dan mencega profokasi


  4. Tim sweeper, berfungsi membuka jalan, menahan arus lalulintas dengan mengecek jalur-jalur aksi yang akan dilalui


  5. Tim negosiasi, melakukan negosiasi dengan pihak sasaran aksi (jika ada tuntutan) dan negosiasi dengan aparat keamanan yang memblokir jalan.


  6. Tim logistik, harus menjaga kesalamatan baranga-barang logistik supaya tidak tertinggal atau dirampas aparat.


  7. Tim medis. Bertanggung jawab penuh jika terjadi bentrokan dan luka-luka, siap pula dengan obat-obatan standar (Untuk peserta yang pingsan) siap menghubung ambulans


  8. Tim evakuasi, mempersiapkan jalur-jalur evakuasi jika aksi diprepresi dan memastikan jalur-jalur tersebut bersih dari intel dan aparat


  9. Tim humas, melobi pers dan melakukan konfrensi pers


  10. Tim dokumentasi, dokumentasikan aksi (Voto/Video) dan mencatat kronologi aksdari star sampai finish
    Keterangan:
    Semuanya bisa fleksibel; bisa merangkap atau dihilangkan yang lain. Namun jika aksi masa yang besar semuanya teris labih baik

C. Penyiapan Logistik


Spanduk=berisi tuntutan utama, ditulis ringkas dan langsung kepokok, persoalan. Spanduk utama didepan yang lainnya disamping. Dibawahnya ditulis nama Organisasi misal; IMM Cabang Malang


Pengeras suara=minimal satu jika masa kurang dari sertatus, dan ljika masa lebih dari seratus, lebih baik dua ditambah dengan mgaphone keamanan/aster. Untuk mengatur masa aksi dan menyampaikan pesan aksi pada masarakyat


Poster-poster=lebih baik poster diberi gagang kayu sehingga lebih muda membawanya (sekaligus bisa jadi senjata jika aksi bentrok) poster dibuat sebanyak-banyaknya sehingga banyak tuntutan bisa termuat


Selebaran dan pernyataan sikap sebanyak-banyaknya kemasa rakyat dan pers agar mereka mengetahui dengan jelas tuntutan kita, untuk pernyataan sikap ke pers boleh dibuat khusus lebihbanyak tuntutannya namun sederhana dan singkat, padat-jelas


Bendera. Bendera utama cukup satu didepan. Jika aksi gabungan bendera boleh dibawa masing-masing elemen berdasrakna hasil kesepakatan.


Umbul-umbul. Biasanya nama organ didepan kurang terbaca, karenanya bisa gunakan umbul-umbul.


Ikat kepala. Jika dana tidak cukup, ikat kepala berisi nama aksipun sudah cukup
Kamera (dokumentasi aksi)


Alat tulis dan arloji (mencatat kronologi)


D. Koordinasi


Harus dipastikan bahwa semua perlengkapan telah siap, dan pemberitahuan kemasa aksipun sudah dilakukan dengan baik, untuk itu sebaiknya ditetapkan sentral informasi untuk evaluasi dan tempat koordinasi pasca aksi, terutama jika bentrok


E. Absensi


Hal ini wajib untuk mengetahuai kekuatan masa, agar muda pengontrolan apabila dalam keadaan represif dan kita akan melihat sejauh mana masa ikut melakukan kerja-kerja aksi tersebut


2. SELAMA AKSI


Briefing


Orasi-orasi pembukaan, di isi oleh Korlap/Propagandis tentang tuntutan/lagu-lagu perjuangan untuk menambah semangat peserta aksi.
Bergerak
Komando dari korlap bahwa aksi siap dimulai, dalam perjalanan tim agipro (Agitasi dan Propoaganda) harus bisa memberi semangat pada peserta aksi melalui lagu-lagu/yel yang dikomandoi Korlap.


Tim swepwr harus sering memberi informasi langsung kekorlap tantang keadaan didepan/rute aksi yang akan dilewati, keamanan mengontrol, mengawasi barisan agar tidak cair dan mengawasi intel/masa cair masuk dibarisan yang ingin memprovokasi(tegur jika melakukan provokasi)


3. PASCA AKSI


ABSENSI
EVALUASI
REKOMENDASI