Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

KAU TIDAK BISA MENUNGGU DATANGNYA MUKJIZAT



Judul                            : Life Without Limits 
Penulis                         : Nick Vujicic
Penerjemah                  : P. Herdian Cahya Khrisna
Penerbit                       : PT.Gramedia Pustaka Utama 
Tahun/hal                     : 2011/259
Peresume                     : Rahmat Abd Fatah

Nick lahir tanpa lengan dan tungkai, namun ia tak terbatas dengan keterbatasan itu. Nick bahkan berkeliling dunia memberikan semangat kepada jutaan orang agar mereka mampu menaklukan penderitaan dengan keyakinan, harapan dan keberanian sehingga mereka dapat mengejar impian-impian mereka. Nick telah menjalani hidup yang penuh bahagia. 

Kamis, 31 Mei 2012

RESEP MENATA HATI

Oleh: Rahmat Abd Fatah

Dunia Modern adalah sangkar besi sistem rasional, yang bertransformasi ke segala bidang kehidupan, kohesi moral di dalamnya kecil, abu-abu, fatamorgana. Ia lalu menjadi penyumbang tebesar krisis. seperti, krisis ekonomi, moral, krisis politik, krisis lingkungan dan seterusnya. Inilah fakta sosial yang sedang dan akan terus di jalani umat manusia seantero bumi ini. Fakta sosial oleh Durkheim adalah kekuatan (forces) sekaligus struktur yang bersifat eksternal yang memaksa individu.

Rabu, 30 Mei 2012

INSPIRASI USTADZ RAHMAT ABDULLAH

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang senantiasa mencurahkan berbagai macam ni'mat dan karuniaNya kepada kita semua. Atas inayah Allah jugalah saya dapat bertemu dengan Ustaz Rahmat Abdullah dalam karya-karya beliau, pun belum sempat bertatap muka, tulisan-tulisan beliau senantiasa menginspirasi, menghujam kuat dalam hati mengeras menjadi komitmen, mengarahkan kemana hidup ini harus dipersembahkan...

Kamis, 18 Juni 2009

Episode Cinta Sang Murabbi


Judul buku : Episode Cinta Sang Murabbi
Penulis : Helvi Tiana Rosa, dkk
Tebal : 324 Halaman ; 18 cm


Cinta: adalah kata kunci kesetiaan, keakraban, kebersamaan, serta semua fenomena keindahan dan kesejukan hidup. Bahkan, cinta adalah kehidupan itu sendiri. Tak seorangpun di dunia ini yang dapat hidup tanpa cinta. Karena hidup tanpa cinta, hampa tiada makna. Maka, setiap kita mesti hidup dalam cinta. Cinta mampu mengerakkan keinginan hati. Semakin kuat cinta, semakin kuat hati mendorong melakukan sesuatu yang disukai.

Demikianlah, atas dorongan cinta, Sang Murabbi selalu siap membimbing, mengajak, mendidik, menegur sapa, dan menasehati mereka yang merindukannya. Episode Cinta Sang Murabbi, bertutur tentang taburan cinta dan kenangan bersama seorang Murabbi yang memberikan sentuhan dan pengaruh mendalam, terhadap orang yang mengenalnya secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga memberikan sinar yang menyelusup menerangi kalbu dan pikiran. Dan akhirnya, terciptalah EPISODE CINTA SANG MURABBI.

Rabu, 22 April 2009

Kata Bijak 1

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.
(Sayidina Umar bin Khattab)

Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahawa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik sebagaimana yang Engkau cintai.
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

-Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'
-Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia -Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya
-Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara'
-Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi
-Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki
-Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan
-Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia tidak wara', sedang orang yang tidak wara' itu bererti hatinya mati
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

Dia berkata kepada para sahabat,"Sesungguhnya aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah org yg paling baik di kalangan kamu maka berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus maka ikutilah aku tetapi kalau aku menyeleweng maka betulkan aku!"
(Sayidina Abu Bakar)

Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan iaitu: Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau; hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau; hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau; adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna
(Sayidina Abu Bakar)

Jika tidak karena takut dihisab, sesungguhnya aku akan perintahkan membawa seekor kambing, kemudian dipanggang untuk kami di depan pembakar roti.
(Sayidina Umar bin Khattab)

Wahai Tuhan, janganlah Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di atas tanganku. Wahai Tuhanku, umurku telah lanjut dan kekuatanku telah lemah. Maka genggamkan (matikan) aku untukMu bukan untuk manusia.
(Sayidina Umar bin Khattab)

-Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya
-Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina
-Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya
-Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga

(Sayidina Umar bin Khattab)

Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahawa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik sebagaimana yang Engkau cintai.
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, kerana sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima?
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya.
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.
(Sayidina Ali Karamallahu Wajhah)

Sabtu, 14 Maret 2009

Cahaya Yang Hanya Sebentar


Secara pribadi, aku tidak mengenal beliau. Istri tercintakulah yang mengajaku menikuti kuliah Dhuhanya di Iqro Islamic Centre Pondok gede setiap minggu pagi. Awalnya aku hanya sampai di parkiran saja, Baca Koran, sarapan dan menunggu istri mengikuti kuliah dhuha. Sampai pada suatu hari, saat setelah semua lembaran Koran habis terbaca, sayup-sayup aku mendengar suara dari arah tempat kuliah dhuha itu. Aku Cuma merenung, mengapa tak kuikuti saja kuliah dhuha itu mulai minggu depan.
Minggu depannya saat aku menatap wajah pembicara itu, aku tercenung. Masya Allah lelaki itu begitu mempesona. Aku seakan melihat cahaya mengelilingi wajahnya. Ya beliau begitu bersinar pagi itu. Aku masih ingat saat itu awal minggu dibulan Februari 2005. kenapa pagi itu kami datang agak terlambat , perjumpaan yang kurang dari satu jam malah dapat meyakinkan diriku “aku akan datang tiap minggu disini; Usta”.
Setelah itu , apabila tidak ada kepentingan yang lebih mendesak, kami berduapun setiap minggu rajin mengikuti dakwahnya. Menikmati setiap kata yang diucapkannya dan tak lupa mencatatnya (hal yang sebenarnya sulit untuk dilakukan. karena Ustaz terlalu tinggi ilmunya). Usai beliau memberikan kuliah, tak lupa sengaja kucegat ditangga untuk menyalaminya. Untuk mempresentasikan rasa hormatku pada beliau. Satu yang kuingat beliau tidak pernah lupah memberikan senyum saat aku kedepankan tanganku untuk mengajaknya bersalaman. Tentu ‘wa alaikum salam’ tak pernah lupa balas untukku.
12 Juni 2005, kami mengajak anak-anak berlibur ke lido. Karena anak yang paling besar hendak menghadapi ujian. Kamipun mengajak mereka berlibur untuk memudahkan konsentrasi belajarnya. Astagfirullah, Minggu pagi itu seharusnya kami tidak pergi, seharusnya kami tetap “menimba ilmu” ke Iqro. Karena pada hari rabu pagi kabar yang mengejutkan itu datang. Ustaz telah berpulang. Yang berarti perjumpaan kami dengan Ustaz yang terakhir, terjadi pada kuliah dhuha du pekan sebelumnya. Innalillahi wa inalilahi rojiun.
Terhenyak oleh kenyataan itu akupun bergegas ke Iqro sendirian. Istri telah berangkat kerja saat ia mengabari berita itu. Sesampai di iqro’, lautan manusia telah memadati aula. Akupun segera mengikuti sholat untuk Ustaz. Saat sang Imam menangis, akupun tak kuasa membendung emosiku.
Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku menangis saat melakukan sholat jenazah. Entah mengapa. Padahal aku baru sebentar mengenalnya. Namaku pun ia tak tahu dan kamipun hanya beberapa kali bersalaman. Tetapi yang jelasa aku memiliki rasa kehilangan yanga amat sangat saat itu hingga sekarang. Cahaya yang hanya sebentar kulihat itu telah dipanggil oleh yang maha kuasa. Cahaya yang dapat membuat aku bersemangat pergi bersama isteri di minggu pagi, sekarang tidak ada lagi.
Selamat jalan Ustaz, begitu lantunku saat berjalan melewati Jenazah Ustaz di pembaringan. Semoga dilapangkan kuburmu, diterangi kuburmu dengan cahaya-Nya. Dan dibukakan pintu gerbang taman-taman sorga dimana mengalir sungai-sungai dibawahnya, untukmu, Amin.

Jatibening, 20 Juni 2005
Kresnamurti: kresnamurti@gmail.com
Komp. TNI Jatibening Indah, Bekasi

(Di saring Oleh: Rahmat Abd Fatah dari Episode Cinta Sang Murabbi; Ketenangan bersama KH. Rahmat Abdullah. Hal-84).

Jumat, 23 Januari 2009

TIDAK ADA YANG KALAH


Oleh : Rahmat Abd Fatah

Adagium seperti ; siapa memperoleh apa kapan dan bagaimana, tidak ada teman sejati yang ada hanyalah kepentingan abadi dalam dunia politik telah menjelma menjadi prinsip hidup dalam percaturan politik. Istilah tersebut tidaklah salah. Namun mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok diatas kepentingan umum adalah kesalahn besar. Kesalahan besar tersebut bukan saja menzalimi hak masyarakat saat itu, namun hal tersebut akan terseubjektifikasi menjadi hal wajar bagi generasi berikutnya khususnya, yang terjun dalam dunia politik dan merupakan pendidikan politik “buruk” bagi masyarakat.

Bukankah salah satu fungsi partai politik sebagai kendaraan para politisi itu adalah pendidikan politik pada masyarakat? Lantas apa yang lebih indah dan lebih bermanfaat selain bicara dan berpihak secara kongrit pada masyarakat? Uangkah? Atau…….? Anda yang lebih paham tentang diri anda
Tulisan ini bukan bermaksud mengulas dua istilah diatas, namun konflik pertarungan politik antara dua kandidat dalam pesta demokrasi, menimbulkan pertanyaan besar apa yang dicari?

''Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu'.'' (Ali 'Imran: 26). Apa yang dikehendaki Allah SWT jadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan jadi. Manusia bisa merencanakan tetapi Allah jua yang menentukan.

Silih bergantinya siang dan malam, kemenangan dan kekalahan, dan terjadinya perubahan menunjukkan kuasa Allah Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta serta keterbatasan kita sebagai manusia. Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah.'' (Yaa Siin: 82).

Memang, kita bisa memahami bahwa Kekalahan adalah sesuatu yang paling tidak disukai banyak orang dan sulit untuk bisa diterima. Namun bukankah sebelum bertanding kita telah siap segalanya? siap menerima kekalahan dan siap membantu yang menang dalam kontek perjuangan untuk rakyat. Kalaupun tidak terlibat secara struktur bukankah juga bisa dengan cultural “ mencintai tidak selamanya memuji; mengkritik adalah bagian dari mencintai”. Dan memosisikan diri sebagai pengkritik adalah satu diantara cara bijak. Namun ingat..! mengritik yang tidak disertai dengan solusi adalah menghujat.

karena itu, memahami kekalahan dengan jiwa besar, berpikir positif dan bijak dalam menghadapinya. Sesungguhnya anda telah memenangkan peperangan. Memenangkan peperangan dalam seratus pertempuran belum menunjukan kemenangan sesungguhnya. kemenangan sesungguhnya adalah sejauh mana anda merubahnya menjadi energi positif, memanusikan manusia, serta turut terlibat dalam substansi manifestasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dengan hal semacam itu anda akan selamanya dikenang sebagai pemimpin yang baik dan bijaksana.

Itulah hakikat berfastabiqulkhairat; (berlomba-lomba dalam kebajikan) karenya jika kita hanya silau pada kesenangan dan kenikmatan dunia, yang kita jumpai hal yang tidak pasti, semu, utopis, bahkan menyakitkan akan terus menghantui.

Kemenangan lalu diekspresikan dengan kesombongan, congkak, dan bahkan lupa diri kepada yang memberi nikmat. Akan selamanya tidak akan di Ridhoi Allah SWT, berbungkus dengan atas nama agama terhadap kebusukannya, kemunafikannya, kecongkakannya. Namun menerima kemenangan sebagai Amanah, memimpin dengan penuh cinta dan ketulusan hati adalah sebuah kemenangan sempurna. Tidak ada yang kalah bukan? Kalian semua pemenangnya.