Rabu, 30 Mei 2012
INSPIRASI USTADZ RAHMAT ABDULLAH
Label:
Hikmah
Kamis, 07 Juli 2011
AVATAR THE LAST AIR BINDER

Seringnya episode di ulang-ulang sangat membosankan. namun sampai juga di episode dramatis dan sarat konflik, transformasi spiritual serta pendewasaan karakter The King Earth dan The Guru.
Yang paling kusuka adalah percakapan antara Aang dengan Guru, seorang penasehat spiritual dari kuil pengembara udara.bahwa untuk mencapai dunia Avatar Aang Harus mampu membuka cakra dirinya.
Membuka 7 cakra adalah mengalir lepas menerima keadaan dengan jiwa besar untuk membuka energy dan bersatu dengan kosmik semesta. Guru mengatakan kosongkan dirimu dari apa yang membuatmu sedih, apa yang mengesalkan, apa yang membuatmu benci, apa yang kau takuti, dan apa yang kau cintai dilarung lepas seperti air yang mengalir. Sungguh Indah sekali…namun sayang Aang gagal pada cakra Ke 7. akibat larut dalam perasaan cintanya...
Selasa, 22 Desember 2009
HIJRAH WAKTU

(Oleh : Herman Oesman)
"Tanpa kita menerima fakta bahwa semuanya akan berubah,
kita tidak akan mampu menemukan ketenangan."
(Shunryu Suzuki – Master Zen)
MENJALANI tahun 1431 Hijriyah dalam waktu dekat, tak berbeda dengan hari-hari biasa. Kita jalani apa adanya. Nuansa pergantian tahun (Hijriyah) dalam kalender Islam ini tidaklah sama dengan nuansa pergantian tahun Miladiyah (penanggalan Masehi) yang rutin kita lalui.
Pada setiap pergantian tahun Masehi (miladiyah), kita justru menanti detak jam pukul 12 malam dengan pesta dan hiruk-pikuk tak bermakna. Memukul tiang listrik, meniup terompet, mabuk dan sebagainya. Kita nikmati dan larut. Kita pun menjadi bagian dari pusaran waktu. Lalu setelah itu? Kita seolah menjalani hidup yang muspra.
Waktu Mekanis
Pergantian tahun dalam bentuk apapun, adalah waktu yang tidak konstan. Di sana ada ”perubahan”. Pendulum, jarum jam dan angka-angka yang secara mekanis mengalami pergerakan. Mulai dari angka satu sampai angka 12 yang terbagi menjadi 24 jam. Alan Lightman, seorang fisikawan kelahiran Memphis, Tennessee, Amerika Serikat tahun 1948, dalam bukunya Einstein’s Dreams (1999) melukisnya sebagai waktu-mekanis.Waktu mekanis ---menurut pandangan Lightman—yang terurai apik dalam catatan 24 April 1905 pada salah satu bagian dari buku itu menyebutkan, ”...kaku, laksana pendulum besi raksasa yang terayun-ayun maju-mundur, tak dapat ditolak. Sudah ditetapkan sebelumnya.” Waktu tetap bergerak, menggilas apa saja. Waktu tak dapat ditahan. Al-Qur’an pun memberi ’peringatan’ keras tentang berharganya waktu. Sehingga itulah, Tuhan pun bersumpah dengan waktu. (QS. Al-’Ashr).
Memang, mengarifi, memaknai dan menyikapi waktu tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Setiap putaran waktu, selalu kita genggam erat harapan-harapan. Kita ingin tetap sukses dan beruntung. Padahal, Lightman mengingatkan, mereka yang hanya ingin tetap sukses, beruntung, penuh sukacita dan takut musibah atau kesedihan, adalah orang yang tak siap menghadapi kenyataan atas berjalannya waktu.
Mengawali tahun (Miladiyah) dipenghujung 2009 ini, kita masih disentak rentetan musibah yang tidak ada habis-habisnya. Mulai insiden moda transportasi, longsor dan banjir yang menimpa saudara-saudara kita. Semua ini menumpahkan emosi dan meletakkan kesadaran kita pada titik nadir dan seolah ”menggugat” takdir. Pada konteks ini yang dapat mengisi ruang-ruang batin dan pikiran kita hanyalah Sang Pencipta. Dan karena itu, alangkah bijak dan paling pantas bila semua musibah itu kita kembalikan kepada Sang Pemilik Waktu.
Pada butiran waktu yang terangkai dan melintasi kehidupan, sudah tersedia ruang untuk di-taffakuri, direnungkan. Waktu memiliki dimensi banyak yang secara serentak seperti ruang. Merenungi perjalanan waktu, setidaknya memberikan kesadaran, bahwa di sana tak hanya hidup satu ruang, tapi begitu banyak ruang. Bahkan terlihat paradoksal. Saling berbenturan dengan akal sehat kita. Demikian halnya, suatu waktu, kita berada pada kepatuhan dan khusyu dalam menjalani pusaran arus ritus keagamaan. Namun, di lain waktu, kita menyaksikan, (bahkan) juga ikut melakoni dan terjebak pada penipuan, korupsi, perampokan, tindak kekerasan, dan sebagainya. Dalam waktu itulah, kita mencari identitas, kesejatian, dan bertanya tentang diri ini. Hanya pada waktu, kita mengelola diri, menjadi subyektif dan obyektif sekaligus.
Waktu Kesadaran
Pergantian tahun dan bergeraknya waktu setidaknya menyiratkan sebuah tekad, bahwa yang perlu ditaati adalah waktu kesadaran, bukan waktu mekanis. Karena dengan waktu kesadaran, kita tetap berada dalam keterjagaan. Tidak secara mekanis, menghitung detak jam dan berlalunya hari-hari tanpa sedikitpun memberikan perubahan pada watak dan perilaku kita. Apa jadinya, bila pada waktu kemarin, watak dan perilaku kita ternyata tetap sama, dan di waktu mendatang bahkan semakin menjadi-jadi. Semakin liar, serakah dan rakus. Mungkin inilah yang diingatkan Tuhan, dalam bahasa al-Qur’an, asfala saafiliin.
Waktu mendorong akal dan hati nurani kita untuk ikut bergerak, karena hanya akal dan hati nurani-lah merupakan nilai penentu bagi seorang manusia untuk melakukan sesuatu. Bukan status, harta dan kekuasaan. Titik.
Penanggalan tahun Hijriyah melalui bulan Muharram mengandung hikmah, bahwa pergantian waktu setidaknya merubah seluruh sikap dan watak kita menjadi lebih arif-bijaksana. Inilah saat hijrah akal dan hati nurani. Hijrah, boleh jadi memindahkan perilaku yang demikian keliru dan kasar menjadi lebih halus dan selalu sadar akan kekeliruannya. Hijrah adalah sedikit ruang untuk kita bertafakkur, merenung tentang waktu yang telah kita jalani.
Hijrah adalah pergerakan waktu kesadaran yang memang tidak butuh gegap-gempita dan seremoni. Tapi lebih pada semaraknya naluri dan nurani untuk tetap kokoh bertahan dalam gempuran perubahan waktu. Dengan hijrah, ada nilai-nilai kebajikan yang dapat diraih, sambil tetap berharap semoga nilai dan mental machiavelis (menghalalkan segala cara) tidak terulang, apalagi ditumbuh-suburkan.
Pada hijrah, kita berharap ada penghayatan waktu untuk menggumuli hidup lebih bermakna. Memperkaya jiwa dengan menumbuhkan kesadaran, karena itu waktu tidak harus disia-siakan, waktu harus dimaknai. Sehingga setiap musibah harus pula diselami dalam deterministik kesadaran. Hijrah adalah gerakan revolusi mental dan nurani melalui waktu kesadaran untuk memperbaiki tatanan-tatanan amburadul, mengatur sistem agar lebih sehat. Memperbaiki mental kita untuk lebih siap atas segala yang bakal kita hadapi. Hanya dengan itulah, hijrah lebih memberi manfaat.
Di tahun baru 1431 Hijriyah, mungkin dapat menjadi cermin besar untuk kita kembali berkaca, tentang apa yang sudah kita lakukan pada waktu-waktu kemarin. Sudah saatnya bangsa ini melakukan hijrah waktu, dari waktu mekanis menuju waktu kesadaran, untuk menyadari segala kekeliruan dan kesalahan yang selalu saja diperbuat. Tanpa itu, mungkin kita perlu menyelami hati sambil bertanya : ”manusiakah kita”? []
Rabu, 07 Oktober 2009
Membaca Nasib Orang Usia Lanjut Indonesia

Cerita pendek ”Rumah Amangboru” karya Hasan Al Banna (Kompas, Minggu 5 April 2009) sesungguhnya merupakan kisah yang biasa terjadi dalam kehidupan pada masa usia lanjut banyak orang. Dalam cerpen itu, dituturkan tentang Haji Sudung yang dirundung kesendirian setelah empat tahun sebelumnya istrinya meninggal dunia. Ketiga anaknya (Lisna, Suti, dan Marsan) sebagai anak tentu saja merasa berkewajiban memberi perhatian kepadanya. Tetapi, karena mereka telah menetap di Jakarta, satu-satunya saran yang diajukan adalah mengajaknya untuk hidup di kota besar itu.
Desakan anak-anak dan menantu perempuannya (Risda, istri Marsan), bagi duda berusia 78 tahun yang sudah empat kali naik haji itu, tak dapat ditolak lagi. Namun, kehidupan kota tidaklah cocok baginya. ”Menjalani hari-hari pertama tinggal di kompleks saja, Haji Sudung sudah linglung.” Risda, yang semula menunjukkan minat lebih besar untuk merawatnya dibandingkan kedua anak perempuannya sendiri, lama-kelamaan merasa kewalahan. ”Tambah pikun ia...” sehingga mengambil keputusan menitipkannya ke panti jompo.
Nasib tragis biasanya dialami oleh para orangtua di kampung-kampung, yang pada hari tuanya hidup sendirian karena anak-anaknya merantau, ”menjadi orang kota”, dan tidak kembali ke kampung halaman. Jika masih hidup berpasangan (masih suami-istri), mungkin tidak ada masalah besar, tetapi kalau pasangan sudah meninggal dunia, semisal yang dialami Haji Sudung dalam cerpen tersebut, maka masalah demi masalah akan muncul. Kita dapat membayangkan sendiri, masalah-masalah yang muncul ketika seseorang hidup sendirian dan sudah lanjut usia. Mulanya tentu masalah kesepian atau kesendirian itu sendiri, lalu masalah praktis hidup keseharian yang pasti kurang terjaga lagi, seperti tidak ada orang yang akan mengurus atau mengingatkan soal makan dan perlunya istirahat. Termasuk pula masalah kesehatan, yang sering muncul karena daya tahan dan kekebalan tubuh mulai menurun seiring bertambahnya usia.
Harta kekayaan sebenarnya sangat menolong dalam hal mengatasi persoalan yang dihadapi para lanjut usia itu. Paling tidak, dengan hartanya, mereka dapat membayar pelayanan yang diinginkan. Sayangnya, kehidupan di kampung atau pedesaan belumlah seperti kehidupan kota-kota besar. Belum ada perawat yang khusus menyediakan jasanya untuk melayani orang-orang usia lanjut atau orang jompo. Pada umumnya orang-orang usia lanjut (termasuk yang jompo) di kalangan masyarakat yang masih ”tradisional”, baik di desa maupun di kota, tetap diurus anggota keluarganya atau anggota keluarga besarnya (keluarga batih).
Kepribadian
Salah satu ciri kepribadian masyarakat Indonesia adalah kurang teguhnya sikap untuk independen atau mandiri. Belum saatnya menyerah pada keadaan sudah menyerah. Seharusnya masih bisa mengurus diri sendiri, memilih segala sesuatunya diuruskan oleh orang lain. Keinginan untuk mampu mengerjakan sendiri tidak kuat. Sehingga, akhirnya memilih memercayakan kehidupan yang dijalani kepada orang lain.
Karena itu, para orangtua sering kali harus menyerah terhadap desakan yang didasarkan pada niat baik, terutama niat baik dari orang-orang terdekat, seperti anak dan menantu. Seperti penuturan penulis dalam cerpen itu mengenai Risda, yang ”tak bosan-bosan melunakkan hati Amangboru—sang mertua—untuk tinggal bersamanya”. Ucapan Risda memang begitu manis di telinga, ”Untuk apalah Amangboru menikah lagi. Kalau soal merawat, aku pun bisa. Lagi pula, apa Amangboru yakin akan dirawat setelah nikah? Bukan aku menjelek-jelekkan, cuma khawatir saja, bukannya mengurus Amangboru, eh malah menguras kekayaan.”
Masalahnya, apakah orang lain (termasuk orang-orang terdekat) yang dipercaya itu benar-benar bisa dipercaya? Ternyata tidak selalu bisa dipercaya.
Melalui cerpen ”Rumah Amangboru”, Hasan Al Banna memotret kehidupan Haji Sudung. Potret yang suram. Ketakberdayaan seorang laki-laki tua yang telah kehilangan kemandirian. Cerpen itu juga menunjukkan betapa ”durhaka”-nya si menantu, yang semula berniat baik, tetapi ternyata kemudian berubah pikiran. Dia begitu tega mengirimkan mertuanya ke panti jompo. Tidak ada upaya perlawanan sedikit pun dari Haji Sudung terhadap ”kekuasaan” menantunya, yang akhirnya menguasai pula uang hasil penjualan harta buminya. Celakanya, tidak ada pula pembelaan dari anak-anaknya sendiri, Marsan, dan kedua kakaknya, Lisna dan Suti. Pertanyaannya kemudian, apakah memang harus demikian nasib orangtua pada masa usia lanjut?
Sudah tentu nasib orangtua pada masa usia lanjut tidak harus berakhir tragis: harta habis, lalu dititipkan ke panti jompo. Para orangtua mestinya juga tidak harus mengikuti apa kata pengarang cerpen ini, ”Begitulah, dulu anak-anaknya tunduk pada aturan-aturan yang ia maklumatkan. Tetapi, kini ia harus paham bahwa tiba juga giliran untuk menurutkan kemauan anak.” Sebab, segala sesuatu harus dipikirkan masak-masak. Apakah kemauan anak itu baik untuk kedua pihak, dirinya maupun untuk anaknya, atau hanya untuk salah satu? Jikalau hanya baik untuk salah satu pihak, lebih baik tidak dituruti. Dan di sinilah kemandirian dalam memutuskan sesuatu diperlukan.
Selama masih bisa mandiri, setiap orang usia lanjut seharusnya berusaha mandiri sampai benar-benar tidak mampu mandiri. Hidup menumpang di rumah anak, artinya akan menjadi beban tambahan bagi si anak, pasti tidak enak. Apalagi, si anak jelas-jelas sudah punya beban dan tanggung jawab sendiri, yaitu anak-anak mereka alias cucu. Haji Sudung sendiri sebenarnya masih bisa mandiri sebab dengan harta buminya dia dapat menopang kehidupannya. Dia hanya memerlukan orang yang pantas dan bisa dipercaya. Jadi, kewajiban anak-anaknya sesungguhnya adalah mencarikan orang yang pantas dan bisa dipercaya itu untuk mengurus atau merawat Haji Sudung, bukan memboyongnya ke Jakarta dan menjual seluruh harta buminya!
Tetapi, apa boleh buat, Haji Sudung sudah dibuat menyerah oleh pengarangnya, seperti mengikuti prototipe orang usia lanjut Indonesia pada umumnya. Risda juga diplot sebagai ”biang” kesengsaraan hidup mertuanya dengan sikap yang merasa tak cukup mendapatkan uang hasil penjualan kekayaan mertuanya (yang telah dia gunakan untuk membuka salon). Dia merasa direpotkan dan tidak mau lagi mengurus mertuanya yang kian pikun. Dan akhirnya, Haji Sudung akan diantar ke panti jompo. Risda bahkan berbohong ketika memberi perintah kepada dua anaknya, ”Andika, Veri, suruh Opung berkemas-kemas. Bilang besok kita jalan-jalan ke kampung.”
Meski kurang tegas, Hasan Al Banna memberi amanat agar pembaca (orang usia lanjut) jangan mudah percaya kepada siapa pun, termasuk anak dan menantu sendiri, sehingga mau menyerahkan diri, semua harta dan seluruh kehidupannya begitu saja.
-----
Sumber: Kompas, Minggu, 10 Mei 2009
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03061113/membaca.nasib.orang.usia.lanjut.indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)






